Ke Waduk Gembong via Desa Wonosekar

Untuk menuju waduk Gembong (dikenal juga dengan nama Seloromo), ada banyak jalur yang bisa dilalui. Jalur utama merupakan jalan aspal Pati-Gembong. Alternatif lain melalui jalan desa Semirejo atau desa Wonosekar.

Kesempatan kali ini saya melewati desa Wonosekar. Hanya mengandalkan Google Maps. Sok kekinian 😀 Sempat grogi juga pas layar ponsel menunjukkan data offline. Saya pikir sinyal hilang. Matek! Mungkin akibat salah pencet (?) Ternyata Google Maps tetap online… Lega dong ah dan perjalanan blusukan lewat desa Wonosekar pun dilanjutkan… 😀

Menurut teman, ke waduk lewat “jalan dalam” tanjakannya curam tapi pemandangannya bagus. Makanya saya mau olahraga sepedaan sekalian membuktikan. Apa iya curam? Apa iya indah?

Dan…. menurut saya tanjakan ke waduk via desa Wonosekar biasa-biasa saja… *Somsek 😀  Jalurnya sih pedesaan banget. Nyaman bener buat sepedaan. Tapi… jalanannya sepiii… saya malah ngeri ada begal 😦  *hari ini baca koran, ada kasus begal motor di daerah yang saya lalui kemarin. Mudah-mudahan begalnya gak tau nilai sepeda ya… biar pesepeda aman di jalan 😀

Petunjuk jalan sangat jelas, padahal di pelosok

Continue reading

Advertisements

Seloromo Masih Asat

Minggu pagi sekitar jam 04.30, saya mulai mengenakan jersey sepeda dan perlengkapan pelindung diri, seperti sarung tangan, buff, helm dan kacamata Oakley. Buff dan kacamata adalah versi KW alias abal-abal 😀 Yang penting fungsinya sama. Buff untuk menyerap keringat di dahi. Tanpa buff, keringat di dahi sering jatuh ke muka, dan ini sangat tidak nyaman. Kacamata pun sangat fungsional menghadang benda-benda atau binatang (seperti laron) yang berterbangan di jalan.
Mendekati jam keberangkatan, perut mulai terasa bergejolak. Halah. Seringnya kok begitu, sudah pakai jersey lengkap, mules melanda 😀 Ya udah, ngising dulu dengan jersey sepeda melekat di badan. Hahaha.
Kali ini tujuan saya adalah Waduk Seloromo di Gembong. Jarak tempuh ke TKP sekitar 14 km. Perjalanan bersepeda terbilang lantjar djaja. Cuma di tengah perjalanan perut terasa melilit-lilit. Belakangan saya tahu, penyebabnya karena ada gas terjebak di sana. Maklum udah tiga hari nggak ngising jadi perut penuh dengan gas yang terjebak di dalam 😦 Biasanya rutin ngising setiap pagi. Ceritanya, tiga hari sebelum ini saya mengabaikan desakan dari perut dan lebih mengutamakan bersepeda di pagi hari. Saya pikir toh nanti bisa dilakukan setelah olahraga bersepeda. Ternyata tidak, pulang dari bersepeda rasa mules sudah hilang. Dan tidak ngising lagi pada dua hari berikutnya. Nah lo… Jadi pesan saya, jangan remehkan alarm dari perut 😀

selorom1
Perjalanan ke waduk memakan waktu 1,5 jam. Ternyata waduknya masih asat (kehabisan air –red). Saya kira sudah mulai penuh karena sudah beberapa kali turun hujan. Ternyata tidak. Mumpung masih asat, saya bersepeda mendekati air waduk.

selorom2

selorom4 Continue reading