Sepeda Aing Kumaha Aing

Tas frame yang selalu terpasang di sepeda saya berisi multi tools, lensa kacamata, ponsel dan duit (biasanya 30 sampai 70 ribu rupiah saja). Tas pannier berisi ban dalam cadangan 3 pcs, pompa mini, cungkil ban, pemutus rantai, kaos oblong daleman buat ganti, dan handuk kecil. Di sepeda saya juga ada speedometer, kaca spion, lampu senter dan bel elektrik. Pokoknya rameee 😀 Ditambah adanya fender.

Waduk Seloromo, Kec Gembong, Kab. Pati

Selpi

Bagi saya ini bukan gaya-gayaan, tapi sebuah kebutuhan. Efek positif secara psikologis, membuat bersepeda menjadi lebih tenang. Barang-barang semua itu ada setelah melalui perjalanan waktu.

Via Kedungbulus

Karakter saya bergaya touring, nggak terpengaruh sepeda teman-teman yang pakai MTB semua

Akrab di meja makan

Buat saya, bersepeda yang paling penting adalah soal kenyamanan. Saya pun tidak ragu-ragu menggunakan sadel lebar berpegas. Sadel semlohai ini justru paling nyaman buat saya. Bikin jelek tampilan? No problemooo… sepeda aing kumaha aing 😀

Iklan

Seloromo Masih Asat

Minggu pagi sekitar jam 04.30, saya mulai mengenakan jersey sepeda dan perlengkapan pelindung diri, seperti sarung tangan, buff, helm dan kacamata Oakley. Buff dan kacamata adalah versi KW alias abal-abal 😀 Yang penting fungsinya sama. Buff untuk menyerap keringat di dahi. Tanpa buff, keringat di dahi sering jatuh ke muka, dan ini sangat tidak nyaman. Kacamata pun sangat fungsional menghadang benda-benda atau binatang (seperti laron) yang berterbangan di jalan.
Mendekati jam keberangkatan, perut mulai terasa bergejolak. Halah. Seringnya kok begitu, sudah pakai jersey lengkap, mules melanda 😀 Ya udah, ngising dulu dengan jersey sepeda melekat di badan. Hahaha.
Kali ini tujuan saya adalah Waduk Seloromo di Gembong. Jarak tempuh ke TKP sekitar 14 km. Perjalanan bersepeda terbilang lantjar djaja. Cuma di tengah perjalanan perut terasa melilit-lilit. Belakangan saya tahu, penyebabnya karena ada gas terjebak di sana. Maklum udah tiga hari nggak ngising jadi perut penuh dengan gas yang terjebak di dalam 😦 Biasanya rutin ngising setiap pagi. Ceritanya, tiga hari sebelum ini saya mengabaikan desakan dari perut dan lebih mengutamakan bersepeda di pagi hari. Saya pikir toh nanti bisa dilakukan setelah olahraga bersepeda. Ternyata tidak, pulang dari bersepeda rasa mules sudah hilang. Dan tidak ngising lagi pada dua hari berikutnya. Nah lo… Jadi pesan saya, jangan remehkan alarm dari perut 😀

selorom1
Perjalanan ke waduk memakan waktu 1,5 jam. Ternyata waduknya masih asat (kehabisan air –red). Saya kira sudah mulai penuh karena sudah beberapa kali turun hujan. Ternyata tidak. Mumpung masih asat, saya bersepeda mendekati air waduk.

selorom2

selorom4 Baca lebih lanjut

Gowes pagi ini

Tiap hari saya memang nyepeda, cuma tidak setiap kali nyepeda saya niat berhenti untuk foto-foto. Kalo pas mood aja baru foto-foto. 😀

Nah, pagi ini lagi mood berhenti untuk foto sepeda. Kebetulan hasilnya bagus.

Model: Polygon Heist 2.0

Model: Polygon Heist 2.0

Sesekali boleh dong masang screenshot rute gowes saya 🙂

Saya start jam 04.49 wib. Kepagian? Saya rasa tidak...

Saya start jam 04.49 wib. Kepagian? Saya rasa tidak…

Ada yang menyarankan, jangan pernah upload lokasi kita di media sosial, soalnya orang jahat jadi tahu kita ada di mana dan rumahnya sedang ditinggalkan. Tidak aman. Mungkin ada benarnya juga…

Hmm

Review: Sadel Gendut “Oxo”

Permasalahan yang sering dihadapi goweser adalah tangan kesemutan dan bokong panas. Ketika nyepeda, bobot goweser terbagi tiga tumpuan: tangan memegang handlebar, kaki di pedal dan bokong di sadel. Sadel yang pas, mampu menopang sebagian besar bobot goweser, sehingga tangan tidak terbebani secara berlebihan.

Sebelumnya, saya memakai sadel Polygon yang tipis. Tidak nyaman. Ganti dengan sadel Velo gel yang berlubang tengahnya. Malah kesemutan di daerah alat vital 😦

Ganti lagi dengan sadel Strummer yang sporty. Cocok di bokong, tapi tangan masih suka kesemutan. Usaha keempat, pasang sadel gendut merek Oxo.

image

image

Hasil tes, empuknya terasa nyaman. Kesemutan di tangan hampir tidak terjadi. Ini artinya bobot tubuh ditopang di sadel dengan sempurna. Sayangnya, ukuran sadel Oxo terlalu lebar, sehingga ketika kaki mengayuh pedal, paha saya menggesek sisi sadel. Akibatnya posisi duduk sering bergeser maju, dan karenanya saya harus sering membetulkan letak duduk. Ini menjadi tidak nyaman karena terjadi berulang-ulang.

Akhirnya, saya putuskan memakai lagi sadel Strummer yang bentuknya aduhai 😀  Sadel Oxo saya pasang di sepeda lipat putri saya. Senang dia 😀

NgabubuRide (lagi)

Nggak enaknya nyepeda sendirian adalah nggak ada yang bisa disuruh motoin kita. Bisa selfie sih, tapi layout-nya sering nggak dapat 😦

Saya punya teman perawat yang punya sepeda Polygon Heist juga, sama seperti punya saya. Hanya beda tahun produksinya saja. Kita memang berjodoh bersahabat 😀

Berhubung saya ada kebutuhan akan foto-foto tentang sepeda —untuk melengkapi tulisan saya tentang manfaat bersepeda untuk artikel majalah rumah sakit— maka saya (fotografer amatir) mencari talent, dan kebetulan (atau sengaja?) saya milih teman saya yang gowesist sebagai modelnya. Cantik. Suka sepeda pula. Klop!

Ini dia hasil ngabuburide + hunting. Lokasinya di Kecamatan Margorejo, Kab. Pati.

Ngabuburidem0

Ngabuburidem1

Ngabuburidem2 Baca lebih lanjut

NgabubuRIDE

Setelah 3 hari absen bersepeda sore karena bentrok dengan acara buka bersama, maka Minggu sore saya kembali bersepeda. Rutenya: Gembleb – Stadion Joyokusumo – Nadira Regency – Perum Rondole – Winong – Gembleb.

Siap gowes

Siap gowes

Lengkap

Lengkap!

Berangkat jam 17.05 wib. Saya buka puasa di taman perumahan Winong. Minum Minute Maid Pulpy Orange yang sudah disiapkan dari rumah 🙂 Sembari minum, saya mengganti lensa kacamata dari lensa pelangi ke lensa kuning supaya penglihatan sore/malam menjadi lebih jelas 😀

Total perjalanan adalah 12 km, dengan waktu tempuh 45 menit (dengan istirahat buka puasa).