Sepeda

Ketika saya masih SD, pernah memiliki sepeda BMX. Saat SMP vakum. Waktu SMA pernah memakai sepeda gunung Raleigh. Setelah itu vakum bersepeda. Hingga awal tahun 2015, saya masih belum mengenal jenis-jenis sepeda. Dalam pikiran saya, sepeda adalah alat transportasi. Sepeda hanya dibedakan dari bentuk dan fiturnya. Ada yang model balap. Model sepeda gunung. Model sepeda mini. Dan sepeda lipat. Ada yang pakai operan gigi ada yang tidak. Pokoknya pemahaman yang dangkal sekali.

Ketika saya hendak membelikan sepeda untuk anak saya, saya mencarikan yang murah tapi layak dikendarai. Hingga saatnya, saya berkeinginan memiliki sepeda untuk sarana olahraga. Saya pun membeli sepeda bekas merek Wimcycle. Belakangan baru tahu bahwa sepeda itu masuk kategori “recreational full-suspension mountain bike“. Selain bobotnya yang berat (19 kg), dipakai di aspal pun sangat berat. Biar kelihatan gagah, saya pasang ban Deli 26×2.35”. Apalagi ditambah efek bobbing dari suspensi coil. Meskipun saya membeli sepeda bekas ini dengan harga “hanya” 450 ribu rupiah, tapi saya menyesal telah membelinya.

Selanjutnya, saya membeli sepeda Polygon Heist 2.0, karena banyak yang berpendapat sepeda ini ringan dikayuh. Toh, pemakaian saya hanya di jalan aspal. Tapi, benarkah Polygon Heist 2.0 ringan dikayuh? Mengingat sepeda pertama saya adalah Wimcycle seperti yang saya ceritakan sebelumnya, maka saat kali pertama mengendarai Polygon Heist ini ya jelas terasa sangat ringan dikayuh. Meskipun crank bawaannya 48-38-28t. Lama-kelamaan, rasa “ringan” ini berubah menjadi “berat”, apalagi ketika mulai sering diajak nanjak. he..he..he.. Kaki ini mulai manja. Ditambah banyak racun betebaran di dunia maya. he..he..he.. Jadilah saya melakukan upgrade sana-sini. Tujuan utamanya cuma satu: agar sepeda ringan dikayuh saat melahap kewer-kewer di tanjakan. Maklum, di Pati banyak tanjakan aduhai.

Bahkan, saya pernah memakai fork rigid dan ban 700x28c demi memenuhi kebutuhan “uphill“. Eh, masih terasa berat juga. Trus aku kudu piye, Sri? Saya mulai berpikir, jangan-jangan rim 700c tidak cocok buat saya. Bagaimana bila mencoba memakai rim 26″? Duh… keluar biaya lagi…

Saya sempat memakai ban Kenda Karma Pro (kevlar) ukuran 26×2.10″ dan ban tanpa merek ukuran 26×1.75″. Belum sreg karena saya merasakan ban Kenda Karma Pro 26×2.10″ malah terasa lebih berat dari ban 700x38c.

Akhirnya, saya mencoba ban Maxxis Sphinx 26×1.95″. Nah, disini lah saya menemukan kecocokan. Ban ini selain ringan bobotnya, karakteristiknya pun ramah dengan aspal. Intinya saya cocok. Dipakai nanjak, sudah terasa enak. Meskipun tetap terseok-seok. he..he..he.. Inilah akhir petualangan “upgrade” saya… mudah-mudahan tidak ada “upgrade” lagi ya… he..he..he…

Salam gowes…!!

 

Iklan

Minggu Pagi di Stadion Joyokusumo

Minggu pagi tanggal 1 Oktober 2017 kemarin agak berbeda. Sekolah-sekolah (dan instansi pemerintah?) mengadakan upacara bendera memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Saya gak bisa gowes dengan teman-teman, karena harus mengantar anak ke sekolahnya. Sambil nunggu selesai uparaca, kami bertiga (saya, istri dan putri bungsu kami) mampir ke Stadion Joyokusumo. Suasananya berbeda. Dulu semrawut, sekarang lebih tertata. Lokasi para pedagang digeser ke samping stadion. Dengan pemindahan ini menjadikan parkir mobil dan motor di dalam stadion lebih rapi dan bisa memuat banyak kendaraan.

Ada banyak permainan anak-anak di Stadion Joyokusumo. Beberapa diantaranya dapat dilihat pada video di bawah ini.

[Rencana] Sepeda hybrid menjadi 26er

Dua tahun lebih saya menunggangi sepeda hybrid Polygon Heist 2.0 keluaran 2015. Dua kali melakukan penggantian fork. Pernah pakai rigid. Dan sekarang (masih) pakai fork Suntour XCR 29″.

Ban 700x38c terasa terlalu kurus, relatif licin ketika dilakukan pengereman mendadak. Timbul niat menggantinya dengan ban kevlar 26×2.10″. Tujuannya biar lebih aman ketika dibawa trabasan dan juga di turunan curam. Pakai ban 700x38c semi slick sering ngesot. Kenapa gak pakai ban hybrid? Saya beranggapan uphill dengan ban kevlar 26×2.10″ lebih enteng gowesannya daripada ban 700x38c wired. Ini juga salah satu alasan saya ingin mencoba pakai ban kevlar 26×2.10″. Emang muat di Heist? Belum tahu… Belum pernah dicoba. Yang sudah pernah dicoba dipasang di frame Heist adalah ban 26×1.95″. Muat. Dites jalan melindas obstacle berupa tali tambang yg membentang di cor beton terasa empuk. Beda banget dengan ban 700x38c yang tekanannya sampai 75 psi (keras).

Yang mungkin banyak dipersoalkan adalah perbedaan geometri frame 29er dengan 26er. Buat saya sih gak masalah, toh saya bukan atlit yang mencari kecepatan dengan ukuran-ukuran yang optimal. Buat saya cukuplah bila bisa bersepeda menjalin kebersamaan bersama teman-teman.

Persoalan lain adalah semakin rendahnya posisi BB. Ban 700x38c memiliki diameter luar 700mm. Ban 26×2.10 memiliki diameter luar 660mm (bener gak sih? cmiiw). Selisih 40 mm alias 4 cm. Dengan kata lain, posisi BB akan turun 2 cm dari kondisi sekarang. Untungnya, fork ori NEX (travel 63) sudah saya ganti dengan XCR 29″ (travel 80). Ada kenaikan posisi BB sekitar 1 cm dari posisi BB dengan fork ori. Mungkin ada yg kritis berpikir kenapa kenaikan BB bukan 80-63= 17 mm? Sebab yg “ditinggikan” hanya di depan, sedang di belakang tidak berubah. Jadi kurang lebih kenaikan BB dianggap separonya saja. Sama temen bolehlah dibulatkan jadi 1 cm 🙂

Kembali lagi ke penurunan BB yang 2 cm ini telah dibantu dengan peninggian travel fork, sehingga penurunan BB riil mungkin hanya sekitar 1 cm saja. Saya rasa masih aman lah ya buat bersepeda di aspal pedesaan… btw, jarak ujung crank arm ke tanah saat sepeda tidak dinaikin (masih 700x38c) jarak terendahnya 12,5 cm.

[foto] polygon heist dengan ban 26×1.95″