Sarangan & Sangiran

Disaat para pemudik kembali ke kota asalnya masing-masing karena cuti bersama sudah hampir habis, saya justru baru mau liburan. Tapi gak bisa lama-lama. Cukup ambil cuti tahunan (lagi) selama 2 hari, yang waktunya saya tempel dengan hari Minggu. Jadi saya punya waktu libur tiga hari ๐Ÿ˜€

Saya pakai waktu libur ini untuk jalan-jalan ke telaga Sarangan di Magetan Jatim. Juga ke museum manusia purba Sangiran.

Berhenti di Tawangmangu untuk istirahat

Makan bekal nasi rendang (bikinan istri)

Baru sampai di Telaga Sarangan

Naik speedboat Rp 60 ribu sekali putar telaga

Bermalam di Hotel Amaris Solo (Rp 330 ribu per kamar semalam)

Museum Sangiran (Tiket masuk Rp 20 ribu + parkir Rp 5 ribu)

Saru

Dan sebelum kembali ke Pati, niatnya mampir ke waduk Kedung Ombo. Hanya waduknya (Kedung Ombo) tertutup pagarnya. Volume airnya pun kira-kira hanya tinggal separonya. Mungkin ada jalan akses menuju tepian waduk, tapi saya malas blusukan. Kayaknya jalannya sempit dan gak bagus kondisinya. Ini terjadi ketika Google Maps menunjukkan jalan blusukan, saya was-was… saya pun tetap mengikuti jalan aspal (yang kondisinya sebenarnya juga sudah retak-retak tidak terawat). Eh, ternyata sampai di pintu masuk waduk yang pagarnya tertutup. Jadi gagal deh acara mampir di Kedung Ombo. Jauh lebih puas wisata ke waduk Gunung Rowo Pati deh… jalan aksesnya bagus, dan ada tempat makan-makannya ๐Ÿ˜›

-oOo-

Advertisements

#LatePost

Ini kegiatan cuti paska Lebaran. Di tempat saya tidak ada cuti bersama. Libur cuma 2 hari (25-26 Juni 2017) saja. Saya ambil cuti tahunan tanggal 28 Juni 2017 untuk perjalanan ke Semarang. Kebetulan kakak saya sedang mudik ke Semarang jadi sekalian ngepasin waktunya biar bisa ketemuan.

Acaranya hanya ke TransMart Banyumanik, makan soto Pak Man dan ke Gereja Blenduk buat berfoto ria saja. Cukup untuk melepas kangen ๐Ÿ˜€

TransMart

Tea house @TransMart

Soto Pak Man

Gereja Blenduk Semarang

 

Kartu Lebaran Riwayatmu Dulu

Di awal hingga pertengahan tahun 80-an, dua minggu menjelang Lebaran, orang tua kami biasanya membeli kartu Lebaran di pasar Blok M, Jakarta.

Pemilihan desain kartu dan ucapannya disesuaikan pada yang hendak dituju. Umumnya bergambar masjid, atau ketupat. Gambarnya bagus-bagus, dan memberikan kenikmatan tersendiri buat saya saat memandangi gambar masjid-masjid di kartu ucapan tersebut. Beberapa kartu ada yang dibuat dalam bentuk tiga dimensi. Harganya tentu lebih mahal. Keunikan ini membuat kami tercengang. Biasanya hanya dibeli oleh “orang mampu” untuk dikirimkan kepada orang-orang spesial.

Di Aldiron Plaza, tedapat penjual kartu lebaran “hand made” yang dilukis tangan. Harganya jauh lebih istimewa dari kartu cetakan pada umumnya. Kartu Lebaran dikirim menggunakan amplop yang berperangko. Sedangkan kartu-kartu Lebaran yang kami terima dari sanak saudara, handai taulan dan relasi, disimpan rapi dalam lemari.

Perangko-perangko yang melekat di amplop, dikeletek dengan cara diapungkan sobekan amplopnya di permukaan air dalam bak mandi, untuk kemudian (setelah dikeringkan kembali) disimpan di album filateli.


Masa kini semuanya telah berbeda. Ucapan “Selamat Idul Fitri” dikirimkan via media sosial. Bahkan, tidak jarang isinya hanya “copas”. Tukang pos sudah jarang terlihat sekarang, lebih sering melihat “tukang JNE” atau “tukang J&T”.

Berlaku Hukum Rimba untuk Kue Lebaran

Seperti hukum rimba, dimana hewan yang kuat akan bertahan hidup lebih lama daripada yang lemah, begitu pula dengan persediaan suguhan Lebaran. Tapi ada keterbalikan. Yang enak akan habis duluan.

Malah sebelum hari kemenangan itu tiba, persediaan suguhan sudah mulai “dicicil” oleh penghuni rumah tangga ini. Tercatat 1 kaleng wafer Nissin, 1 kaleng biskuit GoodTime, 3 bungkus kacang kulit dan 1 bungkus keripik kentang telah menjadi penghuni tempat sampah. Padahal hari kemenangan masih tiga hari ke depan… Tapi tak apa, toh hampir tidak ada tamu yang datang ke rumah pada hari kemenangan, karena biasanya kami sedang “studi banding” suguhan Lebaran di beberapa tempat, dengan terlebih dahulu meminta maaf (tentunya) kepada si empunya rumah…

Nilai Pelajaranmu Tidak Menentukan Masa Depanmu

Kemarin adalah hari pengumuman kelulusan SMP. Anak saya lulus SMP. Nilai UN-nya jeblok. Saya hanya berpesan kepada dia (anak saya) agar gak usah menyesali hasilnya. Karena nilai UN yang diperolehnya ini adalah buah dari usahanya selama ini. Sekarang tinggal fokus mau melanjutkan sekolah ke mana. Terserah dia. Saya hanya membantu mencarikan informasi jurusan-jurusan di SMK. Ya, SMK. Kayaknya dia cocoknya masuk SMK. Saya membebaskan di memilih jurusan yang diminati. Gak mau maksa. Pilihlah sesuai peminatan.

Berikut ini saya cuplikkan tulisan Deddy Corbuzier tentang pendidikan di Indonesia. Menarik.

Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah tersebut, karna setelah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas disampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih pro ke murid daripada ke sekolah tersebut.

Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini ke anda supaya anda dapat mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman suara saya.

Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, โ€œpentingโ€. Ok?
Jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampe ke sana larinya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu penting,, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah; terutama, di Indonesia.

Mengapa?

Begini saja…
Anda pasti tau bahwa banyak sekali anak2 yang jelek nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja, menjadi pegawai biasa. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Karna masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah?
Menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi guru.

Jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainnya.
Anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, aroundtheworldlineat guru matematika. Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau nilainya jelek.. Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa olahraga dengan nilai baik.

Lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua nilainya baik. Aneh kan???
Kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua murid harus menguasai semua mata pelajaran.

Ya, mungkin untuk dasar, katanya.
Tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang diberikan pada saat dia kecil. Iya tidak???

Karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala hal, begitu juga murid2.
Murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik. Banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika dewasa.

Contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal tersebut.
Atau, menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota, yang sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali.

Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut. Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya lupa, guru akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek.
โ€œKalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi orang sukses.โ€
O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang bekerja pada saya. Itu adalah fakta..

Sekarang, begini sajalah, apa sih yang harus dirubah? Sekolahnya?

Mungkin sistemnya.
Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. Lalu kita bagi kelasnya. Aroundtheworldlineat Kalau anak tersebut suka matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak.

Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka, harus bisa dan harus hafal. Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan.

Kenapa?
Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal.
Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik, tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah, menghafal peta buta, dan sebagainya.Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai.

Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD, anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar anaknya.

Lalu bagaimana merubah itu semua???
Memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. Butuh tahunan untuk merubah itu.
Saya harap satu saat bisa. Tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini orangtua, dengarkan ini baik2.
Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja.

Kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil nanti kedepanya.
Bagaimana caranya?

Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa yang harus di lesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru matematika untuk memberi les tambahan matematika?
Tidak perlu kan? Kenapa tidak dilesi sesuatu yang memang anak itu suka! Kalau anak saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus, saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah mulai dikembangkan sejak kecil.Bukan memaksakan hal yang memang mereka tidak suka.

Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas.

Ya, kalo pelajaran2 seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu sepuluh.

ingat! nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda, nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda rengking satu di kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika anda dewasa, sama sekali tidak berhubungan menurut saya.

Kuncinya adalah orangtua di sini. Orangtua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung pelajaran yang baik…
Jangan memaksakan terhadap anak dari yang asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau sepuluh, tidak penting!

Tidak perlu takut untuk mendapatkan nilai jelek!
Tidak perlu takut untuk tidak naik kelas!
Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur!

Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas, justru itu yang hancur masa depannya.
Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali.
Orangtua saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa seperti itu.

Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka.

Ingat sekali lagi bahwa,

Masa depan anda tidak tergantung pada pintar tidaknya anda di sekolah anda.
Masa depan anda, ada di tangan anda.
Jangan takut untuk mendapatkan merah di sekolah anda.
Kadang2, merah artinya sukses, untuk masa depan anda.

(Deddy Corbuzier)

Ngebolang ke Gua Pancur di Desa Jimbaran, Kayen, Kab. Pati

Karena seminggu kemarin jarang sepedaan akibat kesibukan… *emang sibuk apa sok sibuk? Minggu kemarin pengen bakar lemak. Sengaja ngambil rute yang agak jauhan dikit… Biarpun sendirian nggak masalah… Tujuannya ke Gua Pancur… jarak tempuhnya 24 km dari rumah… jalannya full datar… asyik dong… apalagi masih banyak hamparan sawah di sisi kiri kanan jalan beton yang dilalui…

Setelah duduk satu setengah jam di atas sadel… akhirnya sampai juga di lokasi…

Petunjuk arah sangat jelas

Landmark Gua Pancur

Jajal selfie dengan tomsis (tombol narsis)

pengunjung bisa saja menyusuri bagian dalam gua yang penuh berisi air

Batu melayang

Nggak sampai 30 menit di lokasi, saya pun segera cabut. Ketika masuk kota pati, kayuhan terasa berat. Apa karena belum sarapan? Lemas… Sampai rumah baru tahu kalau ban sepeda mulai kempes separo… ternyata ketusuk paku payung… Untung kejadiannya ketika sudah masuk kota Pati… dan tekanan ban juga belum habis sepenuhnya ketika tiba di rumah…

Yang lagi ngehits di Pati: Bukit Pandang Ki Santa Mulya

Di sekitar Kayen Pati, ada beberapa obyek wisata… baik yang lama maupun yang baru. Yang lama seperti Gua Pancur… sedangkan yang belakangan ngehits adalah Lorotan Semar dan Bukit Pandang Ki Santa Mulya… Tempat-tempat wisata baru seperti curug-curug, seringnya dipopulerkan oleh pesepeda yang gemar trabas… Sejak ada acara “My Trip My Adventure” di salah satu stasiun TV, tempat-tempat wisata baru mulai bermunculkan… Yang sebelumnya berupa lokasi yang “gak dianggap” kini mulai diperhitungkan… Orang-orang “kurang piknik” pun tergerak untuk eksis di tempat-tempat eksotis yang mulai ngehits… Di Pati, ngehitsnya obyek-obyek wisata baru sedikit banyak menghidupkan perekonomian penduduk lokal…

Perjalanan ke Bukit Pandang relatif ringan… jalannya sebagian besar datar dan berupa beton… Kami nyepeda berlima… Teman-teman saya betisnya kuat-kuat atau sepeda saya yang gak umum? Saya biasa nyepeda jalan datar dengan kecepatan 18 kpj “terpaksa” ikut rombongan yang kecepatannya 22 kpj… kelihatannya hanya “selisih dikit”… tapi sedikit menyiksa buat saya… Apalagi jarak yang kami tempuh sejauh 25 km…

Teman-teman saya pakai MTB ban 26″… saya sendiri pakai hybrid ban 700c… Kadang pengen nyicipin ban 26” di sepeda saya… apa gowesannya lebih enteng? karena lingkar rodanya lebih kecil dibanding 700c… atau penyebabnya karena sepeda saya yang kelebihan beban… ah sudahlah… kalau yang satu itu susah diakalin… sudah pernah pakai ban 700x28c… buat nanjak tetap berat… saya pikir pakai ban yang lingkar rodanya lebih kecil akan membuat kegiatan uphill lebih entengan… suatu saat perlu dibuktikan…

Dari RSUD Kayen hingga obyek wisata Bukit Pandang berupa jalan aspal… tanjakan landai… dan hanya 50 meter terakhir tanjakannya curam… ketemu dua bocah yang nuntun sepeda di tanjakan itu… yang satu dengan sepeda lipat… yang lain dengan sepeda tua single speed… wuiih…

Bocah noobie dia… sepeda downhill gitu mosok dipakai uphill… ya berat lah… ๐Ÿ˜€

Masuk Bukit Pandang hanya membayar 2000 rupiah… disediakan beberapa spot-spot foto… juga tersedia banyak warung-warung jajan… asyik…

Beberapa spot di sisi kanan

Spot di sisi kiri

I love you

Sampai di Bukit Pandang

Gak jadi foto di sini karena masih ada pengunjungnya…

Puncak Bukit Pandang

Kupu-kupu jantan

Sarang Burung

Hammock untuk pengunjung

Lorotan Semar
Dari Bukit Pandang, kami melanjutkan perjalanan ke Lorotan Semar yang berjarak 2 km… Di tengah perjalanan kami menjumpai spot bukit kapur yang eksotis… Foto-foto dong pastinya di sana…

Bukit kapur

Continue reading