Dompet di jalan

Ketika sepedaan, saya melihat dompet jatuh di jalan. Dompet itu saya biarkan saja, dan saya pun terus mengayuh sepeda. Cuek.

Ada dua kemungkinan. Bila dompet itu saya ambil dan isinya HANYA berupa uang-uang saja, tentu rezeki namanya. Tapi bila ada kartu identitas di dalamnya, maka kewajiban saya mencari pemiliknya. Bikin repot. Saya ambil opsi netral saja. Cuek bebek. Lanjuuut… 😀

 

Fender alias Mud Guard alias Spakbor

Sebagaimana kita tahu fungsi utama dari pemasangan fender sepeda adalah untuk melindungi sang pengendara atau penumpang dari cipratan air apabila sedang hujan atau saat melewati genangan air. Desain fender sudah mempertimbangkan faktor fungsi tanpa meninggalkan estetika.

Walau fungsi fender cukup penting, banyak pesepeda yang “malu” memasang fender di sepedanya. Kehadiran fender “merusak” tampilan sepeda, khususnya jenis MTB. Teman-teman bilangnya “wagu” 😦

Saya sendiri merasa “menderita” setelah menjual fender chromo plastic yang dulunya selalu terpasang di sepeda saya. Setelah ganti fork rigid dengan Suntour XCR, dimana tidak ada lagi lubang eyelet untuk dudukan fender, saya merasa tidak perlu menggunakan fender. Akibatnya sepeda saya mudah kotor. Sepeda sih gak masalah kalo kotor. Yang parah justru cipratan lumpur di tas hydropack, sadel, dan celana yang belepotan tanah berlumpur. Parah bener!

Intinya, saya ingin memasang fender lagi di sepeda saya. Browsing dulu ah… *nyari yang bentuknya “lumayan” kece biar gak merusak estetika 😀

 

Magnificent Seven

Terinspirasi dari film koboi yang berjudul sama, teman-teman sepeda saya punya karakter yang bervariasi juga. Kesamaannya, mereka memiliki hobby yang sama, yakni badminton. Stamina mereka ditempa di lapangan badminton. Sudah lama memang. Makanya gak butuh waktu lama untuk terjun di dunia sepeda. Penyesuaian stamina bersepedaan hanya sebentar. Beda dengan saya, sepedaan jalan dua tahun, stamina masih gini-gini aja. Pffff….

Beda usia bukan halangan bagi para pesepeda untuk berkumpul bersama. Kuliner bersama. Di sanalah asyiknya. Tambah banyak teman…

Parkir sepeda

Gorengan memang menggoda bagi yang lapar

Nasi sop + degan

Gunung Muria di sana

Kawan-kawan

Pemandangan dari Gardu Pandang

Sisi lain gardu pandang

Beda-beda merek sepeda

Eksis

Perjalanan pulang

 

Gowes Nyepi

Gowes liburan hari raya Nyepi direncanakan gak jauh-jauh. Tujuannya ke TPA Sukoharjo Kab. Pati. Pengen melihat rusa-rusa yang menempati ruang terbuka hijau, eks tempat pembuangan akhir sampah.

TPA Sukoharjo

Ruang terbuka hijau eks tempat pembuangan sampah

Jadi tempat studi banding pengelolaan sampah dari Kabupaten lain

Berhubung ada keperluan, gowes gak lama-lama. Abis jeprat-jepret, saya langsung pulang dan nyuci sepeda 😀 #becek

Deja vu

Minggu pagi jam 05.00 wib, saya berangkat menuju tugu I love Gunung Rowo lagi. Kali ini sepedanya saya bawa naik (karena baru tahu juga kalau ada jalan buat sepeda). Perjalanan berangkat memakan waktu 1 jam 43 menit, sementara di lokasi cuma sebentar, kurang lebih 30 menit, terus saya langsung turun pulang ke rumah.

17553528_827128224103854_2758923866739014703_n

17553613_827128210770522_4169523672859310634_n

17457528_827128197437190_6430253892119431944_n

Sampai Pati kota kondisinya malah turun hujan. Saya pakai jas hujan disposable… tapi dipikir-pikir sesudahnya, rasanya percuma juga karena baju sudah basah duluan akibat keringat 😀 Mending hujan-hujanan sekalian kan ya…

-oOo-

Review Fork XCR 29″ — fitur komplit, harga irit

Nyari fork 700c yang bisa di-lock tapi kesulitan barangnya, saya pun akhirnya beli fork Suntour XCR 29″. Beli online di Rodalink seharga 640rb (disc 20% dari harga 800rb).

Selain bisa di-lock, ada pengaturan “preload” dan “rebound“. Bahkan “preload“-nya pun terasa bedanya antara setelan 0% dan 40%. Saya yang  setahun belakangan pakai fork rigid, bisa merasakan perubahan pengaturan “preload” itu saat lewat aspal kasar. Padahal banyak orang yang tidak merasakan efek perubahan saat memutar-mutar pengaturan “preload” ini di sepedanya. Mungkin saya yang terlalu sensi… atau mereka yang kurang peka… *apaan sih?

Kalo dibandingin fork Suntour NEX bawaan Heist 2.0, ya jauh banget bedanya. Pakai NEX, efek bobbing di tanjakan terasa mengganggu, sementara XCR 29″ tidak walau tidak di-lock.

Preload

Rebound

Lockout

 

I love Gunung Rowo

Foto di tugu “I love Gunung Rowo” mulai viral di Facebook. Saya juga pengen foto di tugu “I love gunung rowo”, ben koyok kanca-kancane 😀  Saya yang sudah bolak-balik ke waduk Gunung Rowo, malah belum tahu lokasi tugu tsb berada. Eh, pas tanya teman ternyata dia tahu. Minggu ini saya niatkan ke waduk Gunung Rowo untuk foto di tugu “I love Gunung Rowo”. Brangkaat…!

Jalan dari rumah jam 05.10 wib. Sekarang membawa hydropack lengkap dengan water bladder. Sadar diri kalo saya orangnya gampang keringatan. Volume keringat yang keluar jauh lebih banyak dari orang lain. Ora umum 😀 Nyatanya membawa air di punggung ini memang bermanfaat. Saya membawa 1,5 liter dalam water bladder. Habis isinya pas nyampai di lokasi waduk Gunung Rowo. Tapi saya masih membawa air juga di botol minum.

Sampai di waduk jam 06.49 WIB (perjalanan 1 jam 40 menit)

Waduk Gunung Rowo

Continue reading