Menggila di Air Terjun Tedunan – Pati

Iklan

Cupu! Bikin Video dengan Kamera 200 ribuan

Bersepeda ke waduk Gunung Rowo minggu kemarin, didokumentasikan hanya dengan action cam ecek-ecek 200 ribuan… Nah, di video kali ini, aku mencoba tantangan untuk diriku sendiri, yaitu membuat video sebagus mungkin dengan kamera seadanya. Mau gimana lagi? Aku cuma punya action cam BCare X2. He he he…

Kendala utamanya adalah aku kekurangan crew, karena “one man show”. Aku yang jadi talent, yang syuting, sekaligus editing. Ribet ya ternyata… Belajar editing juga kilat… cuma 4 hari aja… Selama 4 hari ini aku mengunduh video-video tutorial #AGUNGHAPSAH dan #MUDZIL kemudian aku terapkan di video ini. Kendala lain, saat di rumah aku nggak punya waktu banyak buat editing… bikinnya dicicil setelah pulang kerja mulai jam 17.00 WIB. Aku batasi hingga jam 20.30 WIB. Khusus saat rendering, pengerjaan hingga pukul 22.00 WIB. Jam tidurku berkurang karena mengerjakan editing video ini… ha ha ha…

Banyak yang bilang, bukan “senjatanya” yang paling penting… tapi “man behind the gun”-nya lah yang memegang peranan… Tapi… dengan kamera ecek-ecek 200 ribuan ini aku memang gak bisa berharap banyak lah ya… wkwkwkwk…

BTW, berbeda dari video-video sebelumnya, kali ini aku berusaha membuat video dengan mengutamakan kualitas. Biasanya sih aku hanya mengejar kecepatan aplotan. He he he…

Dalam video ini, apa saja yang berbeda dari video-videoku sebelumnya?
1. Narasi/storyboard. Biasanya bikin tanpa storyboard. hahaha. Aku belajar dari Agung Hapsah.
2. Intro. Dibuat pakai After Effect. Aku pakai template yang aku dapatkan gratis di internet. Lupa link-nya.
3. Cinematic bar. Garis hitam di atas dan bawah video. Aku belajar dari Mudzil.
4. Effect Warp Stabilizer. Aku belajar dari Agung Hapsah.
5. Color Grading. Aku belajar dari Mudzil.
6. Teknik “slow motion” untuk mengurangi efek “shaky”. Aku belajar dari Agung Hapsah.
7. Outro. Aku nyontek Agung Hapsah.

 

Sarangan & Sangiran

Disaat para pemudik kembali ke kota asalnya masing-masing karena cuti bersama sudah hampir habis, saya justru baru mau liburan. Tapi gak bisa lama-lama. Cukup ambil cuti tahunan (lagi) selama 2 hari, yang waktunya saya tempel dengan hari Minggu. Jadi saya punya waktu libur tiga hari 😀

Saya pakai waktu libur ini untuk jalan-jalan ke telaga Sarangan di Magetan Jatim. Juga ke museum manusia purba Sangiran.

Berhenti di Tawangmangu untuk istirahat

Makan bekal nasi rendang (bikinan istri)

Baru sampai di Telaga Sarangan

Naik speedboat Rp 60 ribu sekali putar telaga

Bermalam di Hotel Amaris Solo (Rp 330 ribu per kamar semalam)

Museum Sangiran (Tiket masuk Rp 20 ribu + parkir Rp 5 ribu)

Saru

Dan sebelum kembali ke Pati, niatnya mampir ke waduk Kedung Ombo. Hanya waduknya (Kedung Ombo) tertutup pagarnya. Volume airnya pun kira-kira hanya tinggal separonya. Mungkin ada jalan akses menuju tepian waduk, tapi saya malas blusukan. Kayaknya jalannya sempit dan gak bagus kondisinya. Ini terjadi ketika Google Maps menunjukkan jalan blusukan, saya was-was… saya pun tetap mengikuti jalan aspal (yang kondisinya sebenarnya juga sudah retak-retak tidak terawat). Eh, ternyata sampai di pintu masuk waduk yang pagarnya tertutup. Jadi gagal deh acara mampir di Kedung Ombo. Jauh lebih puas wisata ke waduk Gunung Rowo Pati deh… jalan aksesnya bagus, dan ada tempat makan-makannya 😛

-oOo-

#LatePost

Ini kegiatan cuti paska Lebaran. Di tempat saya tidak ada cuti bersama. Libur cuma 2 hari (25-26 Juni 2017) saja. Saya ambil cuti tahunan tanggal 28 Juni 2017 untuk perjalanan ke Semarang. Kebetulan kakak saya sedang mudik ke Semarang jadi sekalian ngepasin waktunya biar bisa ketemuan.

Acaranya hanya ke TransMart Banyumanik, makan soto Pak Man dan ke Gereja Blenduk buat berfoto ria saja. Cukup untuk melepas kangen 😀

TransMart

Tea house @TransMart

Soto Pak Man

Gereja Blenduk Semarang

 

Yang lagi ngehits di Pati: Bukit Pandang Ki Santa Mulya

Di sekitar Kayen Pati, ada beberapa obyek wisata… baik yang lama maupun yang baru. Yang lama seperti Gua Pancur… sedangkan yang belakangan ngehits adalah Lorotan Semar dan Bukit Pandang Ki Santa Mulya… Tempat-tempat wisata baru seperti curug-curug, seringnya dipopulerkan oleh pesepeda yang gemar trabas… Sejak ada acara “My Trip My Adventure” di salah satu stasiun TV, tempat-tempat wisata baru mulai bermunculkan… Yang sebelumnya berupa lokasi yang “gak dianggap” kini mulai diperhitungkan… Orang-orang “kurang piknik” pun tergerak untuk eksis di tempat-tempat eksotis yang mulai ngehits… Di Pati, ngehitsnya obyek-obyek wisata baru sedikit banyak menghidupkan perekonomian penduduk lokal…

Perjalanan ke Bukit Pandang relatif ringan… jalannya sebagian besar datar dan berupa beton… Kami nyepeda berlima… Teman-teman saya betisnya kuat-kuat atau sepeda saya yang gak umum? Saya biasa nyepeda jalan datar dengan kecepatan 18 kpj “terpaksa” ikut rombongan yang kecepatannya 22 kpj… kelihatannya hanya “selisih dikit”… tapi sedikit menyiksa buat saya… Apalagi jarak yang kami tempuh sejauh 25 km…

Teman-teman saya pakai MTB ban 26″… saya sendiri pakai hybrid ban 700c… Kadang pengen nyicipin ban 26” di sepeda saya… apa gowesannya lebih enteng? karena lingkar rodanya lebih kecil dibanding 700c… atau penyebabnya karena sepeda saya yang kelebihan beban… ah sudahlah… kalau yang satu itu susah diakalin… sudah pernah pakai ban 700x28c… buat nanjak tetap berat… saya pikir pakai ban yang lingkar rodanya lebih kecil akan membuat kegiatan uphill lebih entengan… suatu saat perlu dibuktikan…

Dari RSUD Kayen hingga obyek wisata Bukit Pandang berupa jalan aspal… tanjakan landai… dan hanya 50 meter terakhir tanjakannya curam… ketemu dua bocah yang nuntun sepeda di tanjakan itu… yang satu dengan sepeda lipat… yang lain dengan sepeda tua single speed… wuiih…

Bocah noobie dia… sepeda downhill gitu mosok dipakai uphill… ya berat lah… 😀

Masuk Bukit Pandang hanya membayar 2000 rupiah… disediakan beberapa spot-spot foto… juga tersedia banyak warung-warung jajan… asyik…

Beberapa spot di sisi kanan

Spot di sisi kiri

I love you

Sampai di Bukit Pandang

Gak jadi foto di sini karena masih ada pengunjungnya…

Puncak Bukit Pandang

Kupu-kupu jantan

Sarang Burung

Hammock untuk pengunjung

Lorotan Semar
Dari Bukit Pandang, kami melanjutkan perjalanan ke Lorotan Semar yang berjarak 2 km… Di tengah perjalanan kami menjumpai spot bukit kapur yang eksotis… Foto-foto dong pastinya di sana…

Bukit kapur

Baca lebih lanjut

Segarnya mandi di air terjun Gemarang

Jollong 1 dikenal sebagai perkebunan kopi, sedangkan Jollong 2 dikenal sebagai perkebunan buah naga. Minggu kemarin kami bersembilan uphillan… Gayanya sih pakai istilah uphill… Kenyataannya… gowes kewer-kewer! Penistaan betis…

Lokasi Jollong 2 berada di ketinggian 700 mdpl. Kalau puncak Bukit Naga 766 mdpl. Setidaknya itulah yang tercatat di aplikasi Strava saya… Selain kebun buah naga, Jollong 2 juga terdapat air terjun Gemarang dan kali Ingkung…

Sunday Bike Community (SBC)

Mendaki ke puncak Bukit Naga

Pemandangan ke bawah

Dari sembilan orang, hanya tersisa lima orang yang melanjutkan ngebolang ke air terjun Gemarang… Tapi gak naik sepeda… melainkan jalan kaki…

Jalan kaki ke air terjun Gemarang

Pengennya sih naik ojek… Tapi nanti gak kerasa aura “my trip my adventure“-nya… *ngiritdotcom 😀

Di tengah perjalanan hiking menuju air terjun, ada sedikit penyesalan tidak naik ojek PP… Jalan makadam bikin sakit telapak kaki… Mana jauh juga ternyata… Ojek PP cuma 15 ribu terasa murah… Tapi sudah terlanjur jalan kaki… Apa boleh buat? Di sini gak ada gojek… jangankan gojek… sinyal saja hilang…

Sampai di air terjun ketemu teman gowes satu komunitas… Komunitas sepeda minggu… makanya dinamakan Sunday Bike Community saja biar klop… hadah.. hadah

Air terjun Gemarang

Dinginnya air Gunung Muria

Dulur-dulur SBC

Mandi sekalian bilas jersey yang full keringat… (pencemaran sungai gak sih?)

Mandi di air terjun memang terbukti asyik banget… 😀 😀 😀 Apalagi dilanjut nyeruput coklat panas dan gorengan… sruuuup… aaah… nikmatnya paripurna…

Warung dan pangkalan ojek air terjun

Chocolatos

Kopi + gorengan… nikmatnya paripurna!

 

 

Tambah Teman

Salah satu manfaat bersepeda adalah menambah pertemanan. Baik pertemanan di dunia nyata maupun dunia maya. Diawali dari komen di status seseorang, eh ternyata domisilinya gak jauh-jauh amat. Maka pertemanan di dunia maya seringkali membuahkan acara “kopi darat” yang wujudnya gobar alias gowes bareng … sayangnya hampir gak ada goweser cewek … kalaupun ada … gowesnya udah duluan barengan sama orang lain … *madsud loe?

Ketika saya sedang gontai … gowes santai… gundah gulana mikirin gurunya Amel … tiba-tiba dijejerin sama pesepeda lain … saya kenal orang ini ternyata … pernah kenalan beberapa waktu lalu ketika gobar ke air terjun Tedunan … Beliao guru di salah satu SMK di Pati. Inilah salah satu bukti manfaat bersepeda …

Pak guru ini bawa pengaruh rupanya … saya yang biasa main di 13 kpj ikut ketarik di 19 kpj. Sebentar paha udah kenceng … inget ya paha bukan yang lain … biarpun ditarik … teteup kedodoran sayah… ketinggalan di belakang beliao 100 meteran … hadah.. hadah

Pak Guru

Pak Guru

Sampai di waduk Gunung Rowo … saya malah kehilangan di mana posisi pak guru itu …

Jpeg

Waduk Gunung Rowo

Saya join ke grup sepeda saya (dan pak Guru), sementara pak guru malah tak kunjung datang … gak bisa dikontak karena gak ada sinyal …

Jpeg

Warung Mbak Lin

Gowes kuniner

Gowes kuliner

Ikan nila bakar

Ikan nila bakar

Powered by nature!

Powered by nature!