Segarnya mandi di air terjun Gemarang

Jollong 1 dikenal sebagai perkebunan kopi, sedangkan Jollong 2 dikenal sebagai perkebunan buah naga. Minggu kemarin kami bersembilan uphillan… Gayanya sih pakai istilah uphill… Kenyataannya… gowes kewer-kewer! Penistaan betis…

Lokasi Jollong 2 berada di ketinggian 700 mdpl. Kalau puncak Bukit Naga 766 mdpl. Setidaknya itulah yang tercatat di aplikasi Strava saya… Selain kebun buah naga, Jollong 2 juga terdapat air terjun Gemarang dan kali Ingkung…

Sunday Bike Community (SBC)

Mendaki ke puncak Bukit Naga

Pemandangan ke bawah

Dari sembilan orang, hanya tersisa lima orang yang melanjutkan ngebolang ke air terjun Gemarang… Tapi gak naik sepeda… melainkan jalan kaki…

Jalan kaki ke air terjun Gemarang

Pengennya sih naik ojek… Tapi nanti gak kerasa aura “my trip my adventure“-nya… *ngiritdotcom ๐Ÿ˜€

Di tengah perjalanan hiking menuju air terjun, ada sedikit penyesalan tidak naik ojek PP… Jalan makadam bikin sakit telapak kaki… Mana jauh juga ternyata… Ojek PP cuma 15 ribu terasa murah… Tapi sudah terlanjur jalan kaki… Apa boleh buat? Di sini gak ada gojek… jangankan gojek… sinyal saja hilang…

Sampai di air terjun ketemu teman gowes satu komunitas… Komunitas sepeda minggu… makanya dinamakan Sunday Bike Community saja biar klop… hadah.. hadah

Air terjun Gemarang

Dinginnya air Gunung Muria

Dulur-dulur SBC

Mandi sekalian bilas jersey yang full keringat… (pencemaran sungai gak sih?)

Mandi di air terjun memang terbukti asyik banget… ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ Apalagi dilanjut nyeruput coklat panas dan gorengan… sruuuup… aaah… nikmatnya paripurna…

Warung dan pangkalan ojek air terjun

Chocolatos

Kopi + gorengan… nikmatnya paripurna!

 

 

Review Fork XCR 29″ — fitur komplit, harga irit

Nyari fork 700c yang bisa di-lock tapi kesulitan barangnya, saya pun akhirnya beli fork Suntour XCR 29″. Beli online di Rodalink seharga 640rb (disc 20% dari harga 800rb).

Selain bisa di-lock, ada pengaturan “preload” dan “rebound“. Bahkan “preload“-nya pun terasa bedanya antara setelan 0% dan 40%. Saya yangย  setahun belakangan pakai fork rigid, bisa merasakan perubahan pengaturan “preload” itu saat lewat aspal kasar. Padahal banyak orang yang tidak merasakan efek perubahan saat memutar-mutar pengaturan “preload” ini di sepedanya. Mungkin saya yang terlalu sensi… atau mereka yang kurang peka… *apaan sih?

Kalo dibandingin fork Suntour NEX bawaan Heist 2.0, ya jauh banget bedanya. Pakai NEX, efek bobbing di tanjakan terasa mengganggu, sementara XCR 29″ tidak walau tidak di-lock.

Preload

Rebound

Lockout

 

Bukit Naga

Saya gak percaya bahwa naga itu ada. Tapi berhubung mulai nge-hits, naluri detektif saya sontak muncul. Setelah mengumpulkan informasi yang masih samar-samar, saya nekatย  menyiapkan kendaraan tempur dan perbekalan. Tujuannya ke Bukit Naga. Beneran… lokasinya di mana… jaraknya berapa… belum ada informasi yang saya dapatkan dengan jelas. Hanya ancer-ancer saja…

Pagi-pagi saya berangkat dari rumah. Suasana masih gelap… maklum berangkat jam 05.10 wib. Kendaraan tempur saya alias sepeda tiba di pertigaan waduk Gunungrowo jam 06.45 wib.

istirahat di pos ronda... berharap ada pesepeda lain yang akan ke Bukit Naga

istirahat di pos ronda… berharap ada pesepeda lain yang akan ke Bukit Naga

Berhenti agak lama di sini. Malah jagongan dulu dengan bapak-bapak yang juga baru sampai di TKP dengan sepedanya… beliau hendak ke Waduk Gunungrowo… padahal jarak waduk tinggal 100 meter dari lokasi ini (pos ronda). Saya heran kenapa gak langsung aja ke waduk? Nanggung amat… *meh

Saya bilang ke Bapak itu kalo saya mau ke Bukit Naga… Saya coba manas-manasin si Bapak biar dia mau ikutan ke Bukit Naga… maksud terselubungnya, saya minta ditemenin ke Bukit Naga hehehe!… Saya bilang ke si Bapak… kalo ke waduk saya sudah sering Pak… pengen coba tempat yang baru… mau ke Bukit Naga… Tertarik kah si Bapak? krik.. krik.. krik… GAK!!! Beliaonya tetep mau ke waduk Gunungrowo… ya sudah… tak lama saya pamitan dan melanjutkan perjalanan…

Dari pos ronda tadi, jalannya nanjak terus… sudah 3 km dilalui… akhirnya bertemu rombongan anak-anak SMP yang sedang berolahraga… saya tanya arah Bukit Naga… anak yang ditanya bilang masih lurus… Jauh gak? “Jauh…”, katanya. Saya yang sudah lemas, makin tambah gak bersemangat… tapi saya tetap nekat…mau balik ya isin (malu –red) juga… setelah merayap 1 km… saya tanya ke Bapak-bapak yang sedang nongkrong di pinggir jalan…

Bukit Naga masih jauh Pak?“, tanya saya

1 kilometer lagi“, ujar si Bapak

Semangat saya terpacu. Tapi modal semangat saja tidak cukup. Jalannya sangat curam. Terpaksa saya TTB. Untungnya cuma 100 meter jalan yang curam itu. Abis itu? Malah disambung tanjakan makadam. Uedyaaan… TTB nya berlanjut di jalan makadam.

makadam HANYA 500 meter

makadam HANYA 500 meter

Kira-kira nuntun 500 meter… dan 100 meter makadam terakhir saya lalui dengan sepeda… biar dikira orang-orang bahwa saya ini pesepeda yang handal… melibas makadam… padahal banyakan TTB-nya dan sedikit ruas yang naik sepeda… hehehe

Jadi, dari pertigaan waduk Gunungrowo tadi (tempat jagongan dengan si Bapak)… jarak Bukit Naga ini 4,7 km… 4,2 km berupa aspal dan 500 meter terakhir makadam… paham kan?

Sampai di Bukit Naga… saya puas-puasin motret… apalagi banyak naga di atas bukit… naga yang bersisik… berduri… merah warnanya… BUAH NAGA! Makanya dinamakan BUKIT NAGA…

 

 

Selfie is a must! (tanpa bukti foto nanti dibilang HOAX)

Selfie is a must! (tanpa bukti foto nanti dibilang HOAX)

 

Bukit Naga

Bukit Naga

 

Ketemu NAGA

Ketemu NAGA

Dari lokasi Bukit Naga, kita bisa melihat waduk Gunungrowo dan waduk Seloromo. Pemandangannya keren.

Pemandangannya keren!

Pemandangannya keren!

Dan ada satu pencapaian buat saya pribadi… lokasi ini ketinggiannya 724 mdpl… merupakan rekor tertinggi yang saya capai dengan bersepeda…

Strava ke Bukit Naga

Strava ke Bukit Naga

Di Bukit Naga ini, banyak pedagang buah dan minuman… mereka menggelar lapak di atas terpal plastik. Ada juga pedagang resmi yang menjual aneka juss. Menempati sebuah bangunan. Saya sempat membeli juss buah naga. Saking hausnya, beli 2 gelas juss buah naga… enyoooiiiii…. ๐Ÿ˜€

Segelas juss buah naga harganya 5 ribu rupiah

Segelas juss buah naga harganya 5 ribu rupiah

-oOo-

Mengapa Anda Makan?

Pertanyaan sederhana. Jawabannya macam-macam, tapi bisa saya kerucutkan sebagai berikut:

1. Sudah masuk waktu makan. Misalnya sudah jam 12 siang … jam istirahat … anda menuju tempat makan dan makan …

2. Memang ingin makan. Walau belum masuk jam makan —karena pengen— Anda pun akhirnya makan. Ini yang menyebabkan obesitas :mrgreen:

3. Karena lapar. Benar-benar lapar. Ini yang seharusnya menjadi alasan kita makan.

Anda termasuk yang mana? Kalau saya seringnya alasan ketiga, sehingga sering tidak peduli dengan apa lauknya, makan apa saja terasa nikmatnya… 

Mie Terbang

Bila ulang tahun, ada sebagian orang yang makan-makan mie … sebagai simbol panjang umur … seperti panjangnya mie itu sendiri …. ๐Ÿ™‚

Saya juga pengen makan mie … bertepatan dengan HUT saya … ben koyok konco-konco ne … ๐Ÿ™‚

Seporsi Rp 19 ribu. Rasanya yaah … lumayan lah … kalo diukur dengan angka 1-10 … Mie goreng yang ini nilainya 7.

Selain mie terbang, saya juga makan lotek Salatiga … penasaran aja … setahu saya lotek dari jogja … ini kok tulisannya Salatiga … dan kalau di-skor … nilainya 6 aja … 😁

Eh, itu perut apa karung? Kok semua muat ?!?

Bukan Polygon Zenith DXย 

Coba-coba pasang stang kumis di Polygon Heist. Ujicoba sebentar keliling perumahan, dan dapat disimpulkan:

(+) posisi mengemudi nyaman di punggung dan pantat (postur tegak, dipadu sadel lebar … Maknyus)

(+) rasanya tangan pun tak akan mengalami kesemutan untuk nyepeda dalam waktu lama.

(-) bentuk wagu, gak macho lagi seperti ketika memakai stang united.

(-) handling relatif lebih sulit dibanding stang united, mungkin karena belum terbiasa. Ngeri kalo dibawa meluncur turun dengan kecepatan >40 kpj

(-) kabel rem agak nekuk (akibat kurang panjang, maklum rem beli sekenan)

Prosedur Perpanjangan SIM C di Satlantas Pati

Baru kali ini saya melakukan perpanjangan SIM C dengan usaha sendiri. Dulu-dulu minta bantuan sodara, sehingga sebagian prosedur sudah dikerjakan, dan saya datang hanya untuk foto.

Kali ini lain. Sodara udah meninggal dunia. Sehingga urus sendiri semua prosedur sejak awal. Lebih pede karena sudah ada layanan pengaduan saber pungli. Ada pungli, laporkan… Sehari sebelumnya, saya siapkan fotokopi KTP sebanyak 10 lembar dan fotokopi SIM C lama 10 lembar. Kebanyakan ternyata… 1 lembar aja cukup sih. Hahaha. Saya ambil cuti kerja hanya untuk mengurus perpanjangan SIM.

Saya tiba di lokasi tes kesehatan (Jl Diponegoro Pati) jam 07.50 wib. Numpuk KTP (atau fotokopi KTP) di keranjang yang ada di atas meja petugas. Saya numpuk fotokopi SIM C. Nunggu giliran boleh duduk di kursi bila masih tersedia.

Tiba giliran saya dipanggil. Ditanya keperluannya (tentu saja perpanjang SIM C). Ditensi. Dites buta warna. Ditanya sudah punya map atau belum. Saya bilang, “Belum“. Diberi surat keterangan kesehatan yang disteples di map kuning (diberi oleh petugas) beserta fotokopi KTP dan SIM C. Bayar di sini Rp 26.000,-

Dari sini, saya menuju Satlantas (Jl P Sudirman). Di Satlantas, parkir motor di halaman Satlantas, lalu menuju meja pencatatan tamu (semacam buku tamu). Kemudian masuk mencari loket BRI. Berkas yang didapat dari petugas kesehatan tadi ย kita tumpuk saja di dalam loket BRI. Nunggu giliran dipanggil.

Saat dipanggil, diminta membayar Rp 75.000,- untuk perpanjangan SIM C (Untuk perpanjangan SIM A Rp 80.000,-). Diberi slip bukti pembayaran yang mencantumkan NOMOR RESI.

Bawa berkas (dalam map kuning tadi) dan tumpuk di loket formulir pendaftaran. Nunggu sampai nama kita dipanggil.

Pas giliran saya dipanggil, map kuning diserahkan ke saya. Ada formulir pendaftaran (warna biru) yang harus diisi. Walau disediakan bolpoin, lebih baik kita bawa sendiri karena yang antri bolpoin juga banyaaak…

Setelah formulir pendaftaran diisi, saya masuk ke dalam pintu (samping loket pendaftaran) dan tumpuk map kuning tadi di meja petugas polisi. Tunggu giliran dipanggil.

Pas giliran saya dipanggil, duduk manis di kursi depan petugas. Ditanya keperluannya. Saya jawab, “Perpanjangan SIM C“. Petugas nanya, “Ada data yang berubah?“. Saya jawab, “Tidak“. Lalu saya diberi secarik kertas (karcis) yang tertulis nama dan nomor resi Bank. Map kuning TIDAK dikembalikan. Saya lihat orang-orang yang antri bareng saya kok map kuningnya dikembalikan? Mungkin mereka bikin SIM baru atau ada data identitas yang berubah?

Dari ruang pendaftaran, saya masuk dan antri di dalam ruang foto. Duduk kita pun berjejer dan bergeser satu-satu sesuai urutan antrian kedatangan.

Pas giliran saya tiba, diambil 10 sidik jari tangan saya menggunakan scanner (urut dari jempol sampai kelingking), dilanjut dengan tanda tangan digital. Baru kemudian duduk manis di kursi untuk difoto. Selesai foto, diminta nunggu di luar ruangan. Nunggu aja di depan loket pengambilan SIM.

Sambil nunggu SIM kita jadi, bisa nonton orang-orang ujian praktek motor. Ujiannya pakai motor bebek om…. Saya pasti gagal deh kalo diuji praktek pakai motor bebek. Ujian praktek memang sulit. Ditambah ora kulino nyetir motor bebek. Untung saja yang perpanjangan SIM tidak diuji praktek. Hehehe….

Akhirnya SIM C saya jadi. Selesai semua proses jam 09.45 wib.

Mudah-mudahan informasi ini berguna dan menghindarkan Anda dari kesesatan ketika mengurus perpanjangan SIM…