Nilai Pelajaranmu Tidak Menentukan Masa Depanmu

Kemarin adalah hari pengumuman kelulusan SMP. Anak saya lulus SMP. Nilai UN-nya jeblok. Saya hanya berpesan kepada dia (anak saya) agar gak usah menyesali hasilnya. Karena nilai UN yang diperolehnya ini adalah buah dari usahanya selama ini. Sekarang tinggal fokus mau melanjutkan sekolah ke mana. Terserah dia. Saya hanya membantu mencarikan informasi jurusan-jurusan di SMK. Ya, SMK. Kayaknya dia cocoknya masuk SMK. Saya membebaskan di memilih jurusan yang diminati. Gak mau maksa. Pilihlah sesuai peminatan.

Berikut ini saya cuplikkan tulisan Deddy Corbuzier tentang pendidikan di Indonesia. Menarik.

Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah tersebut, karna setelah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas disampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih pro ke murid daripada ke sekolah tersebut.

Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini ke anda supaya anda dapat mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman suara saya.

Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, β€œpenting”. Ok?
Jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampe ke sana larinya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu penting,, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah; terutama, di Indonesia.

Mengapa?

Begini saja…
Anda pasti tau bahwa banyak sekali anak2 yang jelek nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja, menjadi pegawai biasa. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Karna masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah?
Menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi guru.

Jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainnya.
Anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, aroundtheworldlineat guru matematika. Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau nilainya jelek.. Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa olahraga dengan nilai baik.

Lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua nilainya baik. Aneh kan???
Kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua murid harus menguasai semua mata pelajaran.

Ya, mungkin untuk dasar, katanya.
Tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang diberikan pada saat dia kecil. Iya tidak???

Karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala hal, begitu juga murid2.
Murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik. Banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika dewasa.

Contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal tersebut.
Atau, menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota, yang sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali.

Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut. Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya lupa, guru akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek.
β€œKalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi orang sukses.”
O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang bekerja pada saya. Itu adalah fakta..

Sekarang, begini sajalah, apa sih yang harus dirubah? Sekolahnya?

Mungkin sistemnya.
Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. Lalu kita bagi kelasnya. Aroundtheworldlineat Kalau anak tersebut suka matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak.

Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka, harus bisa dan harus hafal. Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan.

Kenapa?
Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal.
Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik, tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah, menghafal peta buta, dan sebagainya.Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai.

Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD, anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar anaknya.

Lalu bagaimana merubah itu semua???
Memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. Butuh tahunan untuk merubah itu.
Saya harap satu saat bisa. Tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini orangtua, dengarkan ini baik2.
Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja.

Kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil nanti kedepanya.
Bagaimana caranya?

Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa yang harus di lesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru matematika untuk memberi les tambahan matematika?
Tidak perlu kan? Kenapa tidak dilesi sesuatu yang memang anak itu suka! Kalau anak saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus, saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah mulai dikembangkan sejak kecil.Bukan memaksakan hal yang memang mereka tidak suka.

Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas.

Ya, kalo pelajaran2 seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu sepuluh.

ingat! nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda, nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda rengking satu di kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika anda dewasa, sama sekali tidak berhubungan menurut saya.

Kuncinya adalah orangtua di sini. Orangtua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung pelajaran yang baik…
Jangan memaksakan terhadap anak dari yang asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau sepuluh, tidak penting!

Tidak perlu takut untuk mendapatkan nilai jelek!
Tidak perlu takut untuk tidak naik kelas!
Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur!

Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas, justru itu yang hancur masa depannya.
Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali.
Orangtua saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa seperti itu.

Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka.

Ingat sekali lagi bahwa,

Masa depan anda tidak tergantung pada pintar tidaknya anda di sekolah anda.
Masa depan anda, ada di tangan anda.
Jangan takut untuk mendapatkan merah di sekolah anda.
Kadang2, merah artinya sukses, untuk masa depan anda.

(Deddy Corbuzier)

Advertisements

Yang lagi ngehits di Pati: Bukit Pandang Ki Santa Mulya

Di sekitar Kayen Pati, ada beberapa obyek wisata… baik yang lama maupun yang baru. Yang lama seperti Gua Pancur… sedangkan yang belakangan ngehits adalah Lorotan Semar dan Bukit Pandang Ki Santa Mulya… Tempat-tempat wisata baru seperti curug-curug, seringnya dipopulerkan oleh pesepeda yang gemar trabas… Sejak ada acara “My Trip My Adventure” di salah satu stasiun TV, tempat-tempat wisata baru mulai bermunculkan… Yang sebelumnya berupa lokasi yang “gak dianggap” kini mulai diperhitungkan… Orang-orang “kurang piknik” pun tergerak untuk eksis di tempat-tempat eksotis yang mulai ngehits… Di Pati, ngehitsnya obyek-obyek wisata baru sedikit banyak menghidupkan perekonomian penduduk lokal…

Perjalanan ke Bukit Pandang relatif ringan… jalannya sebagian besar datar dan berupa beton… Kami nyepeda berlima… Teman-teman saya betisnya kuat-kuat atau sepeda saya yang gak umum? Saya biasa nyepeda jalan datar dengan kecepatan 18 kpj “terpaksa” ikut rombongan yang kecepatannya 22 kpj… kelihatannya hanya “selisih dikit”… tapi sedikit menyiksa buat saya… Apalagi jarak yang kami tempuh sejauh 25 km…

Teman-teman saya pakai MTB ban 26″… saya sendiri pakai hybrid ban 700c… Kadang pengen nyicipin ban 26” di sepeda saya… apa gowesannya lebih enteng? karena lingkar rodanya lebih kecil dibanding 700c… atau penyebabnya karena sepeda saya yang kelebihan beban… ah sudahlah… kalau yang satu itu susah diakalin… sudah pernah pakai ban 700x28c… buat nanjak tetap berat… saya pikir pakai ban yang lingkar rodanya lebih kecil akan membuat kegiatan uphill lebih entengan… suatu saat perlu dibuktikan…

Dari RSUD Kayen hingga obyek wisata Bukit Pandang berupa jalan aspal… tanjakan landai… dan hanya 50 meter terakhir tanjakannya curam… ketemu dua bocah yang nuntun sepeda di tanjakan itu… yang satu dengan sepeda lipat… yang lain dengan sepeda tua single speed… wuiih…

Bocah noobie dia… sepeda downhill gitu mosok dipakai uphill… ya berat lah… πŸ˜€

Masuk Bukit Pandang hanya membayar 2000 rupiah… disediakan beberapa spot-spot foto… juga tersedia banyak warung-warung jajan… asyik…

Beberapa spot di sisi kanan

Spot di sisi kiri

I love you

Sampai di Bukit Pandang

Gak jadi foto di sini karena masih ada pengunjungnya…

Puncak Bukit Pandang

Kupu-kupu jantan

Sarang Burung

Hammock untuk pengunjung

Lorotan Semar
Dari Bukit Pandang, kami melanjutkan perjalanan ke Lorotan Semar yang berjarak 2 km… Di tengah perjalanan kami menjumpai spot bukit kapur yang eksotis… Foto-foto dong pastinya di sana…

Bukit kapur

Continue reading

Segarnya mandi di air terjun Gemarang

Jollong 1 dikenal sebagai perkebunan kopi, sedangkan Jollong 2 dikenal sebagai perkebunan buah naga. Minggu kemarin kami bersembilan uphillan… Gayanya sih pakai istilah uphill… Kenyataannya… gowes kewer-kewer! Penistaan betis…

Lokasi Jollong 2 berada di ketinggian 700 mdpl. Kalau puncak Bukit Naga 766 mdpl. Setidaknya itulah yang tercatat di aplikasi Strava saya… Selain kebun buah naga, Jollong 2 juga terdapat air terjun Gemarang dan kali Ingkung…

Sunday Bike Community (SBC)

Mendaki ke puncak Bukit Naga

Pemandangan ke bawah

Dari sembilan orang, hanya tersisa lima orang yang melanjutkan ngebolang ke air terjun Gemarang… Tapi gak naik sepeda… melainkan jalan kaki…

Jalan kaki ke air terjun Gemarang

Pengennya sih naik ojek… Tapi nanti gak kerasa aura “my trip my adventure“-nya… *ngiritdotcom πŸ˜€

Di tengah perjalanan hiking menuju air terjun, ada sedikit penyesalan tidak naik ojek PP… Jalan makadam bikin sakit telapak kaki… Mana jauh juga ternyata… Ojek PP cuma 15 ribu terasa murah… Tapi sudah terlanjur jalan kaki… Apa boleh buat? Di sini gak ada gojek… jangankan gojek… sinyal saja hilang…

Sampai di air terjun ketemu teman gowes satu komunitas… Komunitas sepeda minggu… makanya dinamakan Sunday Bike Community saja biar klop… hadah.. hadah

Air terjun Gemarang

Dinginnya air Gunung Muria

Dulur-dulur SBC

Mandi sekalian bilas jersey yang full keringat… (pencemaran sungai gak sih?)

Mandi di air terjun memang terbukti asyik banget… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Apalagi dilanjut nyeruput coklat panas dan gorengan… sruuuup… aaah… nikmatnya paripurna…

Warung dan pangkalan ojek air terjun

Chocolatos

Kopi + gorengan… nikmatnya paripurna!

 

 

Gowes kewer-kewer rute Jollong 2 ke Jollong 1 – melampaui batas

Jam 05.10 wib saya meninggalkan rumah dengan sepeda Polygon Heist settingan roadbike. Tujuan ke Bukit Naga yang berjarak 20 km dari rumah. Fork rigid dan ban 700x28c. Harapannya biar uphill rada entengan πŸ˜€ Saya pun membawa serta botol air minum 750cc merek tertentu yang konon bisa menghindarkan dari ‘zonk‘. Botolnya doang sih, isinya air RO πŸ˜€

Jam 06.38 wib saya telah sampai di pertigaan waduk Gunung Rowo. Berarti jarak tempuh sudah 15 km dari rumah. Itung sendiri berapa kecepatan rata-ratanya πŸ˜€ Rendah kan? Itu belum seberapa, karena jalur berikutnya lebih ekstrim. Padahal panas-panas enak lho makan eskrim… #eeh

Disebabkan efek panas yang menyengat, keringat menetes dengan derasnya membasahi top tube sepeda. Udah mirip gerimis lah… konsumsi air minum pun melampaui batas kewajaran. Akibatnya air minum habis sebelum tiba di tujuan. Saat melewati makadam, sepeda terpaksa dituntun. Tenaga sudah habis. Kewer-kewer.

Jpeg

Makadam 500 meter sebelum Bukit Naga

Malah saya kehilangan speedometer Velo pas TTB. Mau nyariin speedo yang hilang kok udah malas duluan. Makadam bikin keki. Apalagi tenaga benar-benar sudah habis.

Akhirnya sampai juga di Bukit Naga jam 08.03 wib. Segera parkir sepeda dan memesan jus buah naga di warung naga yang ada di lokasi. Seger bener! Tak lama datang teman-teman saya tiga orang dengan sepeda MTB nya masing-masing. Mereka Adi, Hendro dan Budi.

Jpeg

Adi, Budi, Hendro, saya

Yang masih single hanya Adi. Di warung naga, saya minum 2 gelas dan makan nasi kucing 2 bungkus. Setelah membayar, kami akan mendaki bukit naga untuk foto-foto. Adi matanya awas bener, melihat ada cewek bening, langsung aja dia ngajak cewek itu foto bareng. Delalah kok cewek itu mau aja. Setelah foto di depan gerbang masuk ke bukit, ketemu cewek itu lagi di puncak bukit naga. Ya udah… rejeki namanya… kenalan sekalian dengan cewek dua orang itu. Cewek itu kita ajak foto bareng satu-satu bergantian. Kayak selebritis aja. Hahaha… Mungkin cewek itu aslinya takut, tapi mau nolak ya sungkan. Jadi terpaksa mau aja diajak foto bareng #eeh

Jpeg

Hokyaa hokyaa…

Jpeg

Selebritis

Continue reading

Mie Terbang

Bila ulang tahun, ada sebagian orang yang makan-makan mie … sebagai simbol panjang umur … seperti panjangnya mie itu sendiri …. πŸ™‚

Saya juga pengen makan mie … bertepatan dengan HUT saya … ben koyok konco-konco ne … πŸ™‚

Seporsi Rp 19 ribu. Rasanya yaah … lumayan lah … kalo diukur dengan angka 1-10 … Mie goreng yang ini nilainya 7.

Selain mie terbang, saya juga makan lotek Salatiga … penasaran aja … setahu saya lotek dari jogja … ini kok tulisannya Salatiga … dan kalau di-skor … nilainya 6 aja … 😁

Eh, itu perut apa karung? Kok semua muat ?!?

Crash

Semalam habis turun hujan. Jalanan basah. Pagi-pagi nyepeda seperti biasa, lewat jalur biasa. Pas sampai di turunan, dengan kecepatan sepeda 32 kpj, tiba-tiba dua ekor kucing nyeberang jalan. Kucing muncul dari rerumputan. Salah satunya tertabrak ban sepeda saya. Akibatnya saya nyungsep di aspal. Crash! Posisi jatuhnya ke sebelah kanan.

Ditolongin bapak-bapak yang sedang jalan pagi. Bapak-bapak ini yang selalu saya sapa bila berpapasan dengannya.

Badan saya lecet sekujur tubuh … Maklum gesekan dengan aspal. Mulai dari bahu … Paha … Betis … Pergelangan kaki … Siku … Lengan … Dan kaki kiri lecet sedikit. Untungnya muka dan kepala aman. Ada perlindungan dari helm yang saya pakai. Rantai sepeda lepas … Untungnya tidak putus. Sepeda pun tidak lecet … Hanya hand grip tergores … Dan kaca spion patah!

Pesan moril: pakailah alat pelindung diri setiap kali bersepeda … Kita tidak pernah tahu kejadian yang akan menimpa kita di perjalanan.

Saya sekarang tidak pakai kaca spion. Hand grip pakai tanduk buat perlindungan juga apabila jatuh.

Kotak Kosong

Pilkada Kab. Pati tahun depan hanya terdapat pasangan calon tunggal, Haryanto-Arifin. Seng ada lawan! Eh, gak juga sih. “Lawannya” adalah “kotak kosong”. Bukan golput, tapi kotak tanpa gambar. 

Sejauh ini, bupati Haryanto sudah memberi kemajuan signifikan buat Pati, tapi memilih “kotak kosong” adalah peristiwa langka. Jadi bingung pilih mana… #eaaaa