Yang lagi ngehits di Pati: Bukit Pandang Ki Santa Mulya

Di sekitar Kayen Pati, ada beberapa obyek wisata… baik yang lama maupun yang baru. Yang lama seperti Gua Pancur… sedangkan yang belakangan ngehits adalah Lorotan Semar dan Bukit Pandang Ki Santa Mulya… Tempat-tempat wisata baru seperti curug-curug, seringnya dipopulerkan oleh pesepeda yang gemar trabas… Sejak ada acara “My Trip My Adventure” di salah satu stasiun TV, tempat-tempat wisata baru mulai bermunculkan… Yang sebelumnya berupa lokasi yang “gak dianggap” kini mulai diperhitungkan… Orang-orang “kurang piknik” pun tergerak untuk eksis di tempat-tempat eksotis yang mulai ngehits… Di Pati, ngehitsnya obyek-obyek wisata baru sedikit banyak menghidupkan perekonomian penduduk lokal…

Perjalanan ke Bukit Pandang relatif ringan… jalannya sebagian besar datar dan berupa beton… Kami nyepeda berlima… Teman-teman saya betisnya kuat-kuat atau sepeda saya yang gak umum? Saya biasa nyepeda jalan datar dengan kecepatan 18 kpj “terpaksa” ikut rombongan yang kecepatannya 22 kpj… kelihatannya hanya “selisih dikit”… tapi sedikit menyiksa buat saya… Apalagi jarak yang kami tempuh sejauh 25 km…

Teman-teman saya pakai MTB ban 26″… saya sendiri pakai hybrid ban 700c… Kadang pengen nyicipin ban 26” di sepeda saya… apa gowesannya lebih enteng? karena lingkar rodanya lebih kecil dibanding 700c… atau penyebabnya karena sepeda saya yang kelebihan beban… ah sudahlah… kalau yang satu itu susah diakalin… sudah pernah pakai ban 700x28c… buat nanjak tetap berat… saya pikir pakai ban yang lingkar rodanya lebih kecil akan membuat kegiatan uphill lebih entengan… suatu saat perlu dibuktikan…

Dari RSUD Kayen hingga obyek wisata Bukit Pandang berupa jalan aspal… tanjakan landai… dan hanya 50 meter terakhir tanjakannya curam… ketemu dua bocah yang nuntun sepeda di tanjakan itu… yang satu dengan sepeda lipat… yang lain dengan sepeda tua single speed… wuiih…

Bocah noobie dia… sepeda downhill gitu mosok dipakai uphill… ya berat lah… 😀

Masuk Bukit Pandang hanya membayar 2000 rupiah… disediakan beberapa spot-spot foto… juga tersedia banyak warung-warung jajan… asyik…

Beberapa spot di sisi kanan

Spot di sisi kiri

I love you

Sampai di Bukit Pandang

Gak jadi foto di sini karena masih ada pengunjungnya…

Puncak Bukit Pandang

Kupu-kupu jantan

Sarang Burung

Hammock untuk pengunjung

Lorotan Semar
Dari Bukit Pandang, kami melanjutkan perjalanan ke Lorotan Semar yang berjarak 2 km… Di tengah perjalanan kami menjumpai spot bukit kapur yang eksotis… Foto-foto dong pastinya di sana…

Bukit kapur

Continue reading

Segarnya mandi di air terjun Gemarang

Jollong 1 dikenal sebagai perkebunan kopi, sedangkan Jollong 2 dikenal sebagai perkebunan buah naga. Minggu kemarin kami bersembilan uphillan… Gayanya sih pakai istilah uphill… Kenyataannya… gowes kewer-kewer! Penistaan betis…

Lokasi Jollong 2 berada di ketinggian 700 mdpl. Kalau puncak Bukit Naga 766 mdpl. Setidaknya itulah yang tercatat di aplikasi Strava saya… Selain kebun buah naga, Jollong 2 juga terdapat air terjun Gemarang dan kali Ingkung…

Sunday Bike Community (SBC)

Mendaki ke puncak Bukit Naga

Pemandangan ke bawah

Dari sembilan orang, hanya tersisa lima orang yang melanjutkan ngebolang ke air terjun Gemarang… Tapi gak naik sepeda… melainkan jalan kaki…

Jalan kaki ke air terjun Gemarang

Pengennya sih naik ojek… Tapi nanti gak kerasa aura “my trip my adventure“-nya… *ngiritdotcom 😀

Di tengah perjalanan hiking menuju air terjun, ada sedikit penyesalan tidak naik ojek PP… Jalan makadam bikin sakit telapak kaki… Mana jauh juga ternyata… Ojek PP cuma 15 ribu terasa murah… Tapi sudah terlanjur jalan kaki… Apa boleh buat? Di sini gak ada gojek… jangankan gojek… sinyal saja hilang…

Sampai di air terjun ketemu teman gowes satu komunitas… Komunitas sepeda minggu… makanya dinamakan Sunday Bike Community saja biar klop… hadah.. hadah

Air terjun Gemarang

Dinginnya air Gunung Muria

Dulur-dulur SBC

Mandi sekalian bilas jersey yang full keringat… (pencemaran sungai gak sih?)

Mandi di air terjun memang terbukti asyik banget… 😀 😀 😀 Apalagi dilanjut nyeruput coklat panas dan gorengan… sruuuup… aaah… nikmatnya paripurna…

Warung dan pangkalan ojek air terjun

Chocolatos

Kopi + gorengan… nikmatnya paripurna!

 

 

Gowes kewer-kewer rute Jollong 2 ke Jollong 1 – melampaui batas

Jam 05.10 wib saya meninggalkan rumah dengan sepeda Polygon Heist settingan roadbike. Tujuan ke Bukit Naga yang berjarak 20 km dari rumah. Fork rigid dan ban 700x28c. Harapannya biar uphill rada entengan 😀 Saya pun membawa serta botol air minum 750cc merek tertentu yang konon bisa menghindarkan dari ‘zonk‘. Botolnya doang sih, isinya air RO 😀

Jam 06.38 wib saya telah sampai di pertigaan waduk Gunung Rowo. Berarti jarak tempuh sudah 15 km dari rumah. Itung sendiri berapa kecepatan rata-ratanya 😀 Rendah kan? Itu belum seberapa, karena jalur berikutnya lebih ekstrim. Padahal panas-panas enak lho makan eskrim… #eeh

Disebabkan efek panas yang menyengat, keringat menetes dengan derasnya membasahi top tube sepeda. Udah mirip gerimis lah… konsumsi air minum pun melampaui batas kewajaran. Akibatnya air minum habis sebelum tiba di tujuan. Saat melewati makadam, sepeda terpaksa dituntun. Tenaga sudah habis. Kewer-kewer.

Jpeg

Makadam 500 meter sebelum Bukit Naga

Malah saya kehilangan speedometer Velo pas TTB. Mau nyariin speedo yang hilang kok udah malas duluan. Makadam bikin keki. Apalagi tenaga benar-benar sudah habis.

Akhirnya sampai juga di Bukit Naga jam 08.03 wib. Segera parkir sepeda dan memesan jus buah naga di warung naga yang ada di lokasi. Seger bener! Tak lama datang teman-teman saya tiga orang dengan sepeda MTB nya masing-masing. Mereka Adi, Hendro dan Budi.

Jpeg

Adi, Budi, Hendro, saya

Yang masih single hanya Adi. Di warung naga, saya minum 2 gelas dan makan nasi kucing 2 bungkus. Setelah membayar, kami akan mendaki bukit naga untuk foto-foto. Adi matanya awas bener, melihat ada cewek bening, langsung aja dia ngajak cewek itu foto bareng. Delalah kok cewek itu mau aja. Setelah foto di depan gerbang masuk ke bukit, ketemu cewek itu lagi di puncak bukit naga. Ya udah… rejeki namanya… kenalan sekalian dengan cewek dua orang itu. Cewek itu kita ajak foto bareng satu-satu bergantian. Kayak selebritis aja. Hahaha… Mungkin cewek itu aslinya takut, tapi mau nolak ya sungkan. Jadi terpaksa mau aja diajak foto bareng #eeh

Jpeg

Hokyaa hokyaa…

Jpeg

Selebritis

Continue reading

Mie Terbang

Bila ulang tahun, ada sebagian orang yang makan-makan mie … sebagai simbol panjang umur … seperti panjangnya mie itu sendiri …. 🙂

Saya juga pengen makan mie … bertepatan dengan HUT saya … ben koyok konco-konco ne … 🙂

Seporsi Rp 19 ribu. Rasanya yaah … lumayan lah … kalo diukur dengan angka 1-10 … Mie goreng yang ini nilainya 7.

Selain mie terbang, saya juga makan lotek Salatiga … penasaran aja … setahu saya lotek dari jogja … ini kok tulisannya Salatiga … dan kalau di-skor … nilainya 6 aja … 😁

Eh, itu perut apa karung? Kok semua muat ?!?

Crash

Semalam habis turun hujan. Jalanan basah. Pagi-pagi nyepeda seperti biasa, lewat jalur biasa. Pas sampai di turunan, dengan kecepatan sepeda 32 kpj, tiba-tiba dua ekor kucing nyeberang jalan. Kucing muncul dari rerumputan. Salah satunya tertabrak ban sepeda saya. Akibatnya saya nyungsep di aspal. Crash! Posisi jatuhnya ke sebelah kanan.

Ditolongin bapak-bapak yang sedang jalan pagi. Bapak-bapak ini yang selalu saya sapa bila berpapasan dengannya.

Badan saya lecet sekujur tubuh … Maklum gesekan dengan aspal. Mulai dari bahu … Paha … Betis … Pergelangan kaki … Siku … Lengan … Dan kaki kiri lecet sedikit. Untungnya muka dan kepala aman. Ada perlindungan dari helm yang saya pakai. Rantai sepeda lepas … Untungnya tidak putus. Sepeda pun tidak lecet … Hanya hand grip tergores … Dan kaca spion patah!

Pesan moril: pakailah alat pelindung diri setiap kali bersepeda … Kita tidak pernah tahu kejadian yang akan menimpa kita di perjalanan.

Saya sekarang tidak pakai kaca spion. Hand grip pakai tanduk buat perlindungan juga apabila jatuh.

Kotak Kosong

Pilkada Kab. Pati tahun depan hanya terdapat pasangan calon tunggal, Haryanto-Arifin. Seng ada lawan! Eh, gak juga sih. “Lawannya” adalah “kotak kosong”. Bukan golput, tapi kotak tanpa gambar. 

Sejauh ini, bupati Haryanto sudah memberi kemajuan signifikan buat Pati, tapi memilih “kotak kosong” adalah peristiwa langka. Jadi bingung pilih mana… #eaaaa

Mutih

Pas makan di luar, tepatnya di warung makan sekitar waduk Gunung Rowo, masing-masing anak dipesankan ikan bakar. Saya pesan nasi putih dan tempe mendoan. Istri saya pun sama, tempe mendoan.

Tumben hari itu masaknya agak lama. Biasanya 15 menit sudah tersaji semua. Tampaknya warung ini sedang mengerjakan orderan pembeli lain (pesanan dibungkus). Sekitar 30 menitan nasi putih datang ke meja. Lalu disusul ikan bakar. 


Tempe mendoannya mana?“, tanya istri saya ke pekerja warung.

Nggak ada…“, jawabnya dengan santai.

Laaah…?? bukannya bilang dari tadi kek kalo gak punya tempe… Beberapa kali makan di tempat ini, baru kali ini tempenya habis. Dan penjualnya gak bilang lagi… Nasiiib…. Jadinya saya makan nasi pakai sambal aja… #mutih