Ringan mana, ban 26×1.95″ atau 700x38c?

Sebelum memakai ban 26×1.95″, saya memakai ban 700x38c. Bila dikayuh, lebih ringan yang mana?

Ketika masih memakai ban 700x38c, saya hampir selalu menggunakan kombinasi chainring 30t dan gear sprocket 18t. Sepeda melaju di kecepatan 16-17 kpj. Butuh tenaga ekstra untuk membuat sepeda melaju > 20 kpj. Sekarang, dengan ban 26×1.95″, saya tetap menggunakan chainring 30t, tetapi seringnya menggunakan gear sprocket 16t atau 14t. Bahkan kadang-kadang 12t di jalan datar yang mulus. Kecepatan rata-rata di jalan datar 18-19 kpj.

Kenapa ban 26×1.95″ lebih ringan dikayuh?
Analisisnya begini:
– Diameter rims 26″ lebih kecil dari rims 700c. Bobotnya tentu lebih ringan (dengan material yg sama).
– Ruji 26″ lebih pendek dari ruji 700c. Bototnya tentu lebih ringan (dengan material yg sama).
– Ban luar dan ban dalam 26×1.95″ yang saya pakai ternyata bobot keseluruhannya lebih ringan dari ban 700x38c.

Dengan selisih bobot yang saya sebutkan di atas, mematahkan pemikiran saya selama ini, yakni ban 26″ lebih berat dikayuh dari ban 700c. Selama ini saya salah.

Dan… ketika gowes di jalan menanjak pun, lebih ringan dikayuh ban 26×1.95″ daripada ban 700x38c.

Selain unggul karena bobot ban/rims yang lebih ringan, lingkar luar ban 26 pun lebih kecil dari ban 700c.

*keterangan foto: Polygon Heist dengan ban 700x38c dan kenda karma pro 26×2.10″ (ban kenda karma pro 26×2.10″ jauh lebih berat dikayuh daripada ban maxxis sphinx 26×1.95″).

Iklan

Sepeda

Ketika saya masih SD, pernah memiliki sepeda BMX. Saat SMP vakum. Waktu SMA pernah memakai sepeda gunung Raleigh. Setelah itu vakum bersepeda. Hingga awal tahun 2015, saya masih belum mengenal jenis-jenis sepeda. Dalam pikiran saya, sepeda adalah alat transportasi. Sepeda hanya dibedakan dari bentuk dan fiturnya. Ada yang model balap. Model sepeda gunung. Model sepeda mini. Dan sepeda lipat. Ada yang pakai operan gigi ada yang tidak. Pokoknya pemahaman yang dangkal sekali.

Ketika saya hendak membelikan sepeda untuk anak saya, saya mencarikan yang murah tapi layak dikendarai. Hingga saatnya, saya berkeinginan memiliki sepeda untuk sarana olahraga. Saya pun membeli sepeda bekas merek Wimcycle. Belakangan baru tahu bahwa sepeda itu masuk kategori “recreational full-suspension mountain bike“. Selain bobotnya yang berat (19 kg), dipakai di aspal pun sangat berat. Biar kelihatan gagah, saya pasang ban Deli 26×2.35”. Apalagi ditambah efek bobbing dari suspensi coil. Meskipun saya membeli sepeda bekas ini dengan harga “hanya” 450 ribu rupiah, tapi saya menyesal telah membelinya.

Selanjutnya, saya membeli sepeda Polygon Heist 2.0, karena banyak yang berpendapat sepeda ini ringan dikayuh. Toh, pemakaian saya hanya di jalan aspal. Tapi, benarkah Polygon Heist 2.0 ringan dikayuh? Mengingat sepeda pertama saya adalah Wimcycle seperti yang saya ceritakan sebelumnya, maka saat kali pertama mengendarai Polygon Heist ini ya jelas terasa sangat ringan dikayuh. Meskipun crank bawaannya 48-38-28t. Lama-kelamaan, rasa “ringan” ini berubah menjadi “berat”, apalagi ketika mulai sering diajak nanjak. he..he..he.. Kaki ini mulai manja. Ditambah banyak racun betebaran di dunia maya. he..he..he.. Jadilah saya melakukan upgrade sana-sini. Tujuan utamanya cuma satu: agar sepeda ringan dikayuh saat melahap kewer-kewer di tanjakan. Maklum, di Pati banyak tanjakan aduhai.

Bahkan, saya pernah memakai fork rigid dan ban 700x28c demi memenuhi kebutuhan “uphill“. Eh, masih terasa berat juga. Trus aku kudu piye, Sri? Saya mulai berpikir, jangan-jangan rim 700c tidak cocok buat saya. Bagaimana bila mencoba memakai rim 26″? Duh… keluar biaya lagi…

Saya sempat memakai ban Kenda Karma Pro (kevlar) ukuran 26×2.10″ dan ban tanpa merek ukuran 26×1.75″. Belum sreg karena saya merasakan ban Kenda Karma Pro 26×2.10″ malah terasa lebih berat dari ban 700x38c.

Akhirnya, saya mencoba ban Maxxis Sphinx 26×1.95″. Nah, disini lah saya menemukan kecocokan. Ban ini selain ringan bobotnya, karakteristiknya pun ramah dengan aspal. Intinya saya cocok. Dipakai nanjak, sudah terasa enak. Meskipun tetap terseok-seok. he..he..he.. Inilah akhir petualangan “upgrade” saya… mudah-mudahan tidak ada “upgrade” lagi ya… he..he..he…

Salam gowes…!!

 

Ngebolang ke Gua Pancur di Desa Jimbaran, Kayen, Kab. Pati

Karena seminggu kemarin jarang sepedaan akibat kesibukan… *emang sibuk apa sok sibuk? Minggu kemarin pengen bakar lemak. Sengaja ngambil rute yang agak jauhan dikit… Biarpun sendirian nggak masalah… Tujuannya ke Gua Pancur… jarak tempuhnya 24 km dari rumah… jalannya full datar… asyik dong… apalagi masih banyak hamparan sawah di sisi kiri kanan jalan beton yang dilalui…

Setelah duduk satu setengah jam di atas sadel… akhirnya sampai juga di lokasi…

Petunjuk arah sangat jelas

Landmark Gua Pancur

Jajal selfie dengan tomsis (tombol narsis)

pengunjung bisa saja menyusuri bagian dalam gua yang penuh berisi air

Batu melayang

Nggak sampai 30 menit di lokasi, saya pun segera cabut. Ketika masuk kota pati, kayuhan terasa berat. Apa karena belum sarapan? Lemas… Sampai rumah baru tahu kalau ban sepeda mulai kempes separo… ternyata ketusuk paku payung… Untung kejadiannya ketika sudah masuk kota Pati… dan tekanan ban juga belum habis sepenuhnya ketika tiba di rumah…

Fender alias Mud Guard alias Spakbor

Sebagaimana kita tahu fungsi utama dari pemasangan fender sepeda adalah untuk melindungi sang pengendara atau penumpang dari cipratan air apabila sedang hujan atau saat melewati genangan air. Desain fender sudah mempertimbangkan faktor fungsi tanpa meninggalkan estetika.

Walau fungsi fender cukup penting, banyak pesepeda yang “malu” memasang fender di sepedanya.┬áKehadiran fender “merusak” tampilan sepeda, khususnya jenis MTB. Teman-teman bilangnya “wagu” ­čśŽ

Saya sendiri merasa “menderita” setelah menjual fender chromo plastic┬áyang dulunya selalu terpasang di sepeda saya. Setelah┬áganti fork rigid dengan Suntour XCR, dimana tidak ada lagi lubang eyelet untuk dudukan fender, saya merasa tidak perlu menggunakan fender. Akibatnya sepeda saya mudah kotor. Sepeda sih gak masalah kalo kotor. Yang parah justru cipratan lumpur di┬átas hydropack, sadel, dan celana yang belepotan┬átanah berlumpur. Parah bener!

Intinya, saya ingin memasang fender lagi di sepeda saya. Browsing dulu ah… *nyari yang bentuknya “lumayan” kece biar gak merusak estetika ­čśÇ

 

Crash

Semalam habis turun hujan. Jalanan basah. Pagi-pagi nyepeda seperti biasa, lewat jalur biasa. Pas sampai di turunan, dengan kecepatan sepeda 32 kpj, tiba-tiba dua ekor kucing nyeberang jalan. Kucing muncul dari rerumputan. Salah satunya tertabrak ban sepeda saya. Akibatnya saya nyungsep di aspal. Crash! Posisi jatuhnya ke sebelah kanan.

Ditolongin bapak-bapak yang sedang jalan pagi. Bapak-bapak ini yang selalu saya sapa bila berpapasan dengannya.

Badan saya lecet sekujur tubuh … Maklum gesekan dengan aspal. Mulai dari bahu … Paha … Betis … Pergelangan kaki … Siku … Lengan … Dan kaki kiri lecet sedikit. Untungnya muka dan kepala aman. Ada perlindungan dari helm yang saya pakai. Rantai sepeda lepas … Untungnya tidak putus. Sepeda pun tidak lecet … Hanya hand grip tergores … Dan kaca spion patah!

Pesan moril: pakailah alat pelindung diri setiap kali bersepeda … Kita tidak pernah tahu kejadian yang akan menimpa kita di perjalanan.

Saya sekarang tidak pakai kaca spion. Hand grip pakai tanduk buat perlindungan juga apabila jatuh.

Keliru

Seminggu sudah saya tidak sepedaan. Sekalinya mulai sepedaan, saya pikir tenaga sangat full. Ternyata tidak. Kaki pegal-pegal. Alhasil, keringat menetes jauh lebih banyak dari biasanya. Terutama keringat di kepala. Buff ecek-ecek udah jenuh menampung keringat, sehingga tetesan keringat jatuh menghujani frame sepeda. Untung bahannya alloy ┬ájadi gak akan karatan. Hehehe….

Lebih enak nyepeda tiap hari, jadi pas dibejek nanjak, otot kaki gak kagetan lagi…