Sepeda Aing Kumaha Aing

Tas frame yang selalu terpasang di sepeda saya berisi multi tools, lensa kacamata, ponsel dan duit (biasanya 30 sampai 70 ribu rupiah saja). Tas pannier berisi ban dalam cadangan 3 pcs, pompa mini, cungkil ban, pemutus rantai, kaos oblong daleman buat ganti, dan handuk kecil. Di sepeda saya juga ada speedometer, kaca spion, lampu senter dan bel elektrik. Pokoknya rameee πŸ˜€ Ditambah adanya fender.

Waduk Seloromo, Kec Gembong, Kab. Pati

Selpi

Bagi saya ini bukan gaya-gayaan, tapi sebuah kebutuhan. Efek positif secara psikologis, membuat bersepeda menjadi lebih tenang. Barang-barang semua itu ada setelah melalui perjalanan waktu.

Via Kedungbulus

Karakter saya bergaya touring, nggak terpengaruh sepeda teman-teman yang pakai MTB semua

Akrab di meja makan

Buat saya, bersepeda yang paling penting adalah soal kenyamanan. Saya pun tidak ragu-ragu menggunakan sadel lebar berpegas. Sadel semlohai ini justru paling nyaman buat saya. Bikin jelek tampilan? No problemooo… sepeda aing kumaha aing πŸ˜€

#LatePost

Ini kegiatan cuti paska Lebaran. Di tempat saya tidak ada cuti bersama. Libur cuma 2 hari (25-26 Juni 2017) saja. Saya ambil cuti tahunan tanggal 28 Juni 2017 untuk perjalanan ke Semarang. Kebetulan kakak saya sedang mudik ke Semarang jadi sekalian ngepasin waktunya biar bisa ketemuan.

Acaranya hanya ke TransMart Banyumanik, makan soto Pak Man dan ke Gereja Blenduk buat berfoto ria saja. Cukup untuk melepas kangen πŸ˜€

TransMart

Tea house @TransMart

Soto Pak Man

Gereja Blenduk Semarang

 

Yang lagi ngehits di Pati: Bukit Pandang Ki Santa Mulya

Di sekitar Kayen Pati, ada beberapa obyek wisata… baik yang lama maupun yang baru. Yang lama seperti Gua Pancur… sedangkan yang belakangan ngehits adalah Lorotan Semar dan Bukit Pandang Ki Santa Mulya… Tempat-tempat wisata baru seperti curug-curug, seringnya dipopulerkan oleh pesepeda yang gemar trabas… Sejak ada acara “My Trip My Adventure” di salah satu stasiun TV, tempat-tempat wisata baru mulai bermunculkan… Yang sebelumnya berupa lokasi yang “gak dianggap” kini mulai diperhitungkan… Orang-orang “kurang piknik” pun tergerak untuk eksis di tempat-tempat eksotis yang mulai ngehits… Di Pati, ngehitsnya obyek-obyek wisata baru sedikit banyak menghidupkan perekonomian penduduk lokal…

Perjalanan ke Bukit Pandang relatif ringan… jalannya sebagian besar datar dan berupa beton… Kami nyepeda berlima… Teman-teman saya betisnya kuat-kuat atau sepeda saya yang gak umum? Saya biasa nyepeda jalan datar dengan kecepatan 18 kpj “terpaksa” ikut rombongan yang kecepatannya 22 kpj… kelihatannya hanya “selisih dikit”… tapi sedikit menyiksa buat saya… Apalagi jarak yang kami tempuh sejauh 25 km…

Teman-teman saya pakai MTB ban 26″… saya sendiri pakai hybrid ban 700c… Kadang pengen nyicipin ban 26” di sepeda saya… apa gowesannya lebih enteng? karena lingkar rodanya lebih kecil dibanding 700c… atau penyebabnya karena sepeda saya yang kelebihan beban… ah sudahlah… kalau yang satu itu susah diakalin… sudah pernah pakai ban 700x28c… buat nanjak tetap berat… saya pikir pakai ban yang lingkar rodanya lebih kecil akan membuat kegiatan uphill lebih entengan… suatu saat perlu dibuktikan…

Dari RSUD Kayen hingga obyek wisata Bukit Pandang berupa jalan aspal… tanjakan landai… dan hanya 50 meter terakhir tanjakannya curam… ketemu dua bocah yang nuntun sepeda di tanjakan itu… yang satu dengan sepeda lipat… yang lain dengan sepeda tua single speed… wuiih…

Bocah noobie dia… sepeda downhill gitu mosok dipakai uphill… ya berat lah… πŸ˜€

Masuk Bukit Pandang hanya membayar 2000 rupiah… disediakan beberapa spot-spot foto… juga tersedia banyak warung-warung jajan… asyik…

Beberapa spot di sisi kanan

Spot di sisi kiri

I love you

Sampai di Bukit Pandang

Gak jadi foto di sini karena masih ada pengunjungnya…

Puncak Bukit Pandang

Kupu-kupu jantan

Sarang Burung

Hammock untuk pengunjung

Lorotan Semar
Dari Bukit Pandang, kami melanjutkan perjalanan ke Lorotan Semar yang berjarak 2 km… Di tengah perjalanan kami menjumpai spot bukit kapur yang eksotis… Foto-foto dong pastinya di sana…

Bukit kapur

Continue reading

Gowes kewer-kewer rute Jollong 2 ke Jollong 1 – melampaui batas

Jam 05.10 wib saya meninggalkan rumah dengan sepeda Polygon Heist settingan roadbike. Tujuan ke Bukit Naga yang berjarak 20 km dari rumah. Fork rigid dan ban 700x28c. Harapannya biar uphill rada entengan πŸ˜€ Saya pun membawa serta botol air minum 750cc merek tertentu yang konon bisa menghindarkan dari ‘zonk‘. Botolnya doang sih, isinya air RO πŸ˜€

Jam 06.38 wib saya telah sampai di pertigaan waduk Gunung Rowo. Berarti jarak tempuh sudah 15 km dari rumah. Itung sendiri berapa kecepatan rata-ratanya πŸ˜€ Rendah kan? Itu belum seberapa, karena jalur berikutnya lebih ekstrim. Padahal panas-panas enak lho makan eskrim… #eeh

Disebabkan efek panas yang menyengat, keringat menetes dengan derasnya membasahi top tube sepeda. Udah mirip gerimis lah… konsumsi air minum pun melampaui batas kewajaran. Akibatnya air minum habis sebelum tiba di tujuan. Saat melewati makadam, sepeda terpaksa dituntun. Tenaga sudah habis. Kewer-kewer.

Jpeg

Makadam 500 meter sebelum Bukit Naga

Malah saya kehilangan speedometer Velo pas TTB. Mau nyariin speedo yang hilang kok udah malas duluan. Makadam bikin keki. Apalagi tenaga benar-benar sudah habis.

Akhirnya sampai juga di Bukit Naga jam 08.03 wib. Segera parkir sepeda dan memesan jus buah naga di warung naga yang ada di lokasi. Seger bener! Tak lama datang teman-teman saya tiga orang dengan sepeda MTB nya masing-masing. Mereka Adi, Hendro dan Budi.

Jpeg

Adi, Budi, Hendro, saya

Yang masih single hanya Adi. Di warung naga, saya minum 2 gelas dan makan nasi kucing 2 bungkus. Setelah membayar, kami akan mendaki bukit naga untuk foto-foto. Adi matanya awas bener, melihat ada cewek bening, langsung aja dia ngajak cewek itu foto bareng. Delalah kok cewek itu mau aja. Setelah foto di depan gerbang masuk ke bukit, ketemu cewek itu lagi di puncak bukit naga. Ya udah… rejeki namanya… kenalan sekalian dengan cewek dua orang itu. Cewek itu kita ajak foto bareng satu-satu bergantian. Kayak selebritis aja. Hahaha… Mungkin cewek itu aslinya takut, tapi mau nolak ya sungkan. Jadi terpaksa mau aja diajak foto bareng #eeh

Jpeg

Hokyaa hokyaa…

Jpeg

Selebritis

Continue reading

Crash

Semalam habis turun hujan. Jalanan basah. Pagi-pagi nyepeda seperti biasa, lewat jalur biasa. Pas sampai di turunan, dengan kecepatan sepeda 32 kpj, tiba-tiba dua ekor kucing nyeberang jalan. Kucing muncul dari rerumputan. Salah satunya tertabrak ban sepeda saya. Akibatnya saya nyungsep di aspal. Crash! Posisi jatuhnya ke sebelah kanan.

Ditolongin bapak-bapak yang sedang jalan pagi. Bapak-bapak ini yang selalu saya sapa bila berpapasan dengannya.

Badan saya lecet sekujur tubuh … Maklum gesekan dengan aspal. Mulai dari bahu … Paha … Betis … Pergelangan kaki … Siku … Lengan … Dan kaki kiri lecet sedikit. Untungnya muka dan kepala aman. Ada perlindungan dari helm yang saya pakai. Rantai sepeda lepas … Untungnya tidak putus. Sepeda pun tidak lecet … Hanya hand grip tergores … Dan kaca spion patah!

Pesan moril: pakailah alat pelindung diri setiap kali bersepeda … Kita tidak pernah tahu kejadian yang akan menimpa kita di perjalanan.

Saya sekarang tidak pakai kaca spion. Hand grip pakai tanduk buat perlindungan juga apabila jatuh.

Buka Puasa dan Sahur dengan Oatmeal

Oatmeal adalah makanan alternatif (pengganti nasi) yang baik untuk kesehatan jantung, karena mampu menyerap lemak dan kolesterol yang ada dalam tubuh anda dan mengeluarkannya saat anda buang air.

Salah satu alasan kita nggak mau makan oatmeal adalah karena rasanya yang kurang enak. Hambar. Salah satu produk yang menjual Oatmeal adalah Quaker Oats. Jika kita bisa “mengolahnya” dengan baik, maka rasa tidak enak atau hambar tersebut bisa teratasi.

Saya biasa makan oatmeal pada saat buka puasa. Sebanyak 7 sendok makan saya masukkan ke mangkuk lalu disiram kuah sampai seluruh oatmeal terendam. Kuahnya apa? Seadanya hahaha… pas adanya sop, ya pakai kuah sop. Pas adanya kuah santan, ya pakai kuah santan itu. Ada soto, ya pakai kuah soto πŸ˜›

13416801_665197890296889_9162307205691247444_oEfeknya memang belum bisa ditulis di sini, soalnya baru 4 hari dimakan. Hahaha

Kena Tifus

Minggu kemarin saya mengalami demam 2 hari. Dua kali periksa ke dokter BPJS, dikasih obat yang berbeda. Merasa sakit di perut nggak kunjung membaik, saya putuskan memeriksakan darah “atas permintaan sendiri (APS)”. Saya cek Igm Salmonela dengan biaya umum, yang harganya ternyata lumayan mahal, sekitar Rp 270 ribu. Duit di dompet nggak cukup, cuma bawa Rp 250 ribu. Terpaksa bayarnya di-pending dulu untuk ke ATM terdekat πŸ˜€Β  Setelah lunas, dan ngambil hasil lab, dan tarrrraaaa…. Positif Tifus!!

Saya jelas nggak minat kalo rawat inap dengan BPJS kelas 2. Saya khawatir anak-anak akan kehilangan sosok ayah di rumah. Dan kalaupun anak-anak sering bezuk ke rumah sakit, nanti malah tertular bibit penyakit dari rumah sakit. Hmm, saya putuskan berobat jalan saja.

Saya mengkonsumsi obat-obatan “underground” alias bawah tanah. Apaan tuh? Kunir dan cacing tanah πŸ˜€ *dua-duanya ada di bawah tanah kan?* Obat-obatan alternatif ini dibelikan istri saya di pecinan. Cacing tanah sudah berbentuk kapsul, jadi jangan bayanginΒ  makan “spageti” ya… hahaha

Obat-obatan "underground" dari pecinan

Obat-obatan “underground” dari pecinan

Senin pagi saya berobat ketiga kalinya ke dokter BPJS. Dikasih obat antibiotik Lovofloxacin dan surat keterangan istirahat 2 hari. Obat dari dokter BPJS pun saya minum.

Selasa pagi, saya merasa sudah pulih dan hari Rabu kemarin sudah bekerja seperti biasa.