Minggu Pagi di Stadion Joyokusumo

Minggu pagi tanggal 1 Oktober 2017 kemarin agak berbeda. Sekolah-sekolah (dan instansi pemerintah?) mengadakan upacara bendera memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Saya gak bisa gowes dengan teman-teman, karena harus mengantar anak ke sekolahnya. Sambil nunggu selesai uparaca, kami bertiga (saya, istri dan putri bungsu kami) mampir ke Stadion Joyokusumo. Suasananya berbeda. Dulu semrawut, sekarang lebih tertata. Lokasi para pedagang digeser ke samping stadion. Dengan pemindahan ini menjadikan parkir mobil dan motor di dalam stadion lebih rapi dan bisa memuat banyak kendaraan.

Ada banyak permainan anak-anak di Stadion Joyokusumo. Beberapa diantaranya dapat dilihat pada video di bawah ini.

Advertisements

[Rencana] Sepeda hybrid menjadi 26er

Dua tahun lebih saya menunggangi sepeda hybrid Polygon Heist 2.0 keluaran 2015. Dua kali melakukan penggantian fork. Pernah pakai rigid. Dan sekarang (masih) pakai fork Suntour XCR 29″.

Ban 700x38c terasa terlalu kurus, relatif licin ketika dilakukan pengereman mendadak. Timbul niat menggantinya dengan ban kevlar 26×2.10″. Tujuannya biar lebih aman ketika dibawa trabasan dan juga di turunan curam. Pakai ban 700x38c semi slick sering ngesot. Kenapa gak pakai ban hybrid? Saya beranggapan uphill dengan ban kevlar 26×2.10″ lebih enteng gowesannya daripada ban 700x38c wired. Ini juga salah satu alasan saya ingin mencoba pakai ban kevlar 26×2.10″. Emang muat di Heist? Belum tahu… Belum pernah dicoba. Yang sudah pernah dicoba dipasang di frame Heist adalah ban 26×1.95″. Muat. Dites jalan melindas obstacle berupa tali tambang yg membentang di cor beton terasa empuk. Beda banget dengan ban 700x38c yang tekanannya sampai 75 psi (keras).

Yang mungkin banyak dipersoalkan adalah perbedaan geometri frame 29er dengan 26er. Buat saya sih gak masalah, toh saya bukan atlit yang mencari kecepatan dengan ukuran-ukuran yang optimal. Buat saya cukuplah bila bisa bersepeda menjalin kebersamaan bersama teman-teman.

Persoalan lain adalah semakin rendahnya posisi BB. Ban 700x38c memiliki diameter luar 700mm. Ban 26×2.10 memiliki diameter luar 660mm (bener gak sih? cmiiw). Selisih 40 mm alias 4 cm. Dengan kata lain, posisi BB akan turun 2 cm dari kondisi sekarang. Untungnya, fork ori NEX (travel 63) sudah saya ganti dengan XCR 29″ (travel 80). Ada kenaikan posisi BB sekitar 1 cm dari posisi BB dengan fork ori. Mungkin ada yg kritis berpikir kenapa kenaikan BB bukan 80-63= 17 mm? Sebab yg “ditinggikan” hanya di depan, sedang di belakang tidak berubah. Jadi kurang lebih kenaikan BB dianggap separonya saja. Sama temen bolehlah dibulatkan jadi 1 cm 🙂

Kembali lagi ke penurunan BB yang 2 cm ini telah dibantu dengan peninggian travel fork, sehingga penurunan BB riil mungkin hanya sekitar 1 cm saja. Saya rasa masih aman lah ya buat bersepeda di aspal pedesaan… btw, jarak ujung crank arm ke tanah saat sepeda tidak dinaikin (masih 700x38c) jarak terendahnya 12,5 cm.

[foto] polygon heist dengan ban 26×1.95″

 

Sepeda Aing Kumaha Aing

Tas frame yang selalu terpasang di sepeda saya berisi multi tools, lensa kacamata, ponsel dan duit (biasanya 30 sampai 70 ribu rupiah saja). Tas pannier berisi ban dalam cadangan 3 pcs, pompa mini, cungkil ban, pemutus rantai, kaos oblong daleman buat ganti, dan handuk kecil. Di sepeda saya juga ada speedometer, kaca spion, lampu senter dan bel elektrik. Pokoknya rameee 😀 Ditambah adanya fender.

Waduk Seloromo, Kec Gembong, Kab. Pati

Selpi

Bagi saya ini bukan gaya-gayaan, tapi sebuah kebutuhan. Efek positif secara psikologis, membuat bersepeda menjadi lebih tenang. Barang-barang semua itu ada setelah melalui perjalanan waktu.

Via Kedungbulus

Karakter saya bergaya touring, nggak terpengaruh sepeda teman-teman yang pakai MTB semua

Akrab di meja makan

Buat saya, bersepeda yang paling penting adalah soal kenyamanan. Saya pun tidak ragu-ragu menggunakan sadel lebar berpegas. Sadel semlohai ini justru paling nyaman buat saya. Bikin jelek tampilan? No problemooo… sepeda aing kumaha aing 😀