Kartu Lebaran Riwayatmu Dulu

Di awal hingga pertengahan tahun 80-an, dua minggu menjelang Lebaran, orang tua kami biasanya membeli kartu Lebaran di pasar Blok M, Jakarta.

Pemilihan desain kartu dan ucapannya disesuaikan pada yang hendak dituju. Umumnya bergambar masjid, atau ketupat. Gambarnya bagus-bagus, dan memberikan kenikmatan tersendiri buat saya saat memandangi gambar masjid-masjid di kartu ucapan tersebut. Beberapa kartu ada yang dibuat dalam bentuk tiga dimensi. Harganya tentu lebih mahal. Keunikan ini membuat kami tercengang. Biasanya hanya dibeli oleh “orang mampu” untuk dikirimkan kepada orang-orang spesial.

Di Aldiron Plaza, tedapat penjual kartu lebaran “hand made” yang dilukis tangan. Harganya jauh lebih istimewa dari kartu cetakan pada umumnya. Kartu Lebaran dikirim menggunakan amplop yang berperangko. Sedangkan kartu-kartu Lebaran yang kami terima dari sanak saudara, handai taulan dan relasi, disimpan rapi dalam lemari.

Perangko-perangko yang melekat di amplop, dikeletek dengan cara diapungkan sobekan amplopnya di permukaan air dalam bak mandi, untuk kemudian (setelah dikeringkan kembali) disimpan di album filateli.


Masa kini semuanya telah berbeda. Ucapan “Selamat Idul Fitri” dikirimkan via media sosial. Bahkan, tidak jarang isinya hanya “copas”. Tukang pos sudah jarang terlihat sekarang, lebih sering melihat “tukang JNE” atau “tukang J&T”.

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s