Posted in Curcol

Bukan Operasi Simpatik

Hari Minggu kemarin, kami bermaksud menghadiri acara arisan keluarga di Klaten. Saya mengambil rute melalui Semarang. Dari Pati, kami berangkat dengan mobil pribadi pada pukul 05.30.
Saat akan memasuki wilayah pasar Demak (nggak tau nama pasarnya), jalan pantura ditutup karena ada Car Free Day (CFD), dan arus kendaraan dialihkan melalui jalan yang sejajar sungai (nggak tau nama sungainya). Saya ikuti saja mobil di depan, karena saya nggak tahu jalur mana yang harus dilalui untuk kembali ke jalur pantura.

Berhubung saya menyetir dengan selow, mobil yang di depan saya (yang saya ikuti sebagai penunjuk jalan) menghilang dari pandangan. Pas ketemu pertigaan, bingunglah saya. Harus lewat mana? Saya ambil jalur yang lebih lebar saja, begitu pikir saya. Pas mendekati terminal, bingung lagi, mana jalur yang benar? Istri saya bilang, “lurus saja kan di sana (ujung jalan lurus) ada Polisi”. Saya manut. Saya ambil jalur yang berada di samping terminal. Dua orang polisi sudah menunggu di ujung jalan samping terminal Demak. Mobil kami di stop, dan salah seorang polisi itu minta STNK saya, kemudian kami langsung ditilang. Menurut polisi saya melanggar rambu. Saya mungkin klilaf. Jujur saja, saya ini orang yang sangat patuh terhadap peraturan lalu lintas. Kalau melanggar, tentu karena ketidaktahuan saya sebagai manusia biasa. Sepuluh tahun mengemudi di jalanan Jakarta dan sepuluh tahun mengemudi di wilayah karesidenan Pati, saya belum pernah ditilang. Ini kali pertama kena tilang. Inipun akibat kebingungan dengan pengalihan jalur lalu lintas yang menurut saya akibat kurang jelas petunjuk jalannya.

Saya sempat protes ke polisi yang bertugas di sekitar terminal. Mengapa mereka tidak berdiri di persimpangan jalan dan TIDAK mengarahkan kendaraan agar tetap berada di jalur yang benar. Yang saya rasakan, polisi-polisi di sekitar terminal Demak terkesan “menjebak” pengendara yang kebingungan (termasuk saya). Istilahnya: the right man on the wrong place. Seharusnya mereka berdiri di persimpangan yang berisiko membingungkan pengendara luar kota. Takut kepanasan mungkin?

IMG_20160417_072302Beberapa pengendara lain yang tertilang semuanya merupakan pengendara dari luar kota yang kebingungan dengan pengalihan jalan. Ada satu pengendara wanita yang mau nangis karena rumahnya jauh dari Demak. Nggak mungkin balik ke Demak hanya sekedar ikut sidang pengadilan. Dia numpang lewat jalur pantura di area Demak. Polisi itu tidak berusaha memperingatkan pengendara yang salah jalur, tetapi langsung tilang.

IMG_20160417_072338IMG_20160417_072334Berbeda dengan polisi yang bertugas di sekitar area CFD di kota Pati. Bila ada pengendara bermotor yang masuk jalur CFD, mereka (pengendara) disetop dan disuruh putar balik (tidak  langsung tilang seperti polisi di sekitar terminal Demak). Polres Pati bekerja baik dan simpatik. Saran saya: anggota Polres Demak studi banding ke Polres Pati bagaimana menjadi simpatik seperti anggota Polres Pati. Di setiap jalur yang mengarah ke area CFD di Pati, pasti dijaga petugas (entah itu polisi atau satpol PP). Tugasnya mengarahkan pengendara bermotor yang hendak memasuki area CFD.  Polisi harusnya mengayomi dan membimbing. Jangan langsung main tilang-tilang saja.

Sanggup menjadi simpatik, Pak?

(saya sudah minta ijin untuk menuliskan pengalaman ini dan dipersilahkan oleh polisi yang menilang saya yang bernama Aiptu Herxx Sukxxxx)

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s