Posted in Gowes

Bersepeda dan serangan jantung koroner

Banyak orang mengira, bila seseorang rajin berolahraga, maka hidupnya pasti sehat. Kenyataannya tidak selalu demikian. Pola makan dan kekurangan jam tidur juga mempengaruhi derajat kesehatan.

Pagi-pagi saya bangun cukup awal. Kepagian malah😀 Jam 3 pagi mata udah melolok😀 Buka-buka ponsel dan FB. Betapa terkejutnya saya, membaca ucapan belasungkawa kepada salah seorang kenalan saya yang hobi gowes. Dia meninggal akibat serangan jantung koroner. Saya menanyakan kepada kakaknya lewat komen FB. Yang saya belum tahu (padahal ingin tahu banget), apakah terjadinya di rumah atau ketika sedang gowes. Pertanyaan ini belum terjawab sampai detik ini.

Apa itu serangan jantung koroner? Mending baca sendiri dari situs lain deh. Males main copas-copas.😀

Mendadak saya jadi parno. Pagi itu, saya gowes dengan membawa tensimeter. Buat ngukur denyut jantung ketika habis nanjak. Biasanya jantung bekerja sangat keras ketika nanjak dengan sepeda. Nggak percaya? Cobain deh…😀

Ini hasil tensimeter saya….

Sesaat sehabis melahap tanjakan.
Sesaat sehabis melahap tanjakan.
1 menit kemudian... udah ada penurunan denyut jantung menjadi 120 bpm
1 menit kemudian… udah ada penurunan denyut jantung menjadi 120 bpm
Sampai rumah langsung ngukur lagi, sudah 115 bpm
Sampai rumah langsung ngukur lagi, sudah 115 bpm

Jadi penasaran, berapa detak jantung ketika melahap tanjakan Banyuurip. Pasti angkanya dasyat😀

 

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s