Pengalaman Berobat dengan Kartu BPJS: Kartu Sakti atau Kartu Sakit?

Kartu BPJS tergolong “kartu sakti” ketika kita sakit dan hendak berobat rawat jalan, cukup menunjukkan kartu tsb di bagian pendaftaran pada fasilitas kesehatan tingkat pertama BPJS (seperti puskesmas, praktek dokter atau klinik pratama). Setelah selesai diperiksa dokter dan menerima obatnya, kita tidak dipungut biaya apa-apa lagi.

Kartu BPJS tergolong “kartu sakit” karena obat-obat yang diberikan seringnya adalah obat generik, yang (sepertinya) tidak memiliki efek menyembuhkan sama sekali. Dalam kasus yang saya alami, bukan tambah sembuh malah tambah kompleks penyakitnya.

***

Bulan Januari kemarin, hampir setiap pagi turun hujan. Saya jarang sepedaan jadinya. Dalam 2 minggu terakhir di bulan Januari, mungkin hanya 2 hari saja saya bisa sepedaan. Stamina tidak dilatih, ditambah hawa dingin terus menerus, akhirnya saya drop juga dan terserang batuk serta meriang. Saya berobat ke klinik pratama dengan BPJS. Diberi antibiotik dan Hufagrip. Cukup diminum selama 3 hari saja. Selama 2 hari minum obat BPJS, batuk malah ditambah sakit tenggorokan, sementara panas tubuh tetap tinggi dan tidak turun-turun selama 20 jam. Akhirnya saya coba minum Panadol Paracetamol, dalam 3 jam suhu badan kembali normal!

Akhirnya saya periksa lagi ke dokter umum (non BPJS) dan diberi obat paten berupa antibiotik, anti radang dan pengencer dahak. Obat dari BPJS di-stop semua. Selama 2 hari mengkonsumsi obat paten, sakit tenggorokan sudah hilang. Tinggal batuknya yang masih membandel. Oleh dokter disarankan ditambah minum Imunos, untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

***

Seorang pasien BPJS berobat 7 kali ke dokter saraf. Merasa sakitnya tidak berkurang, si pasien komplain ke BPJS. Dokter saraf yang menangani si pasien berargumen, obat yang dicover BPJS sangat terbatas.

***

Seorang keponakan yang masih balita dirawat di rumah sakit sebagai pasien BPJS. Dia terserang tifus. Beberapa hari dirawat, suhu tubuhnya belum stabil. Setelah menyadari si balita memakai obat BPJS, akhirnya dokter spesialis anak yang menangani keponakan saya itu berbaik hati dengan memberikan obat paten di luar yang ditanggung oleh BPJS. Sebentar saja suhu tubuh keponakan menjadi stabil.

***

Mudah-mudahan, ke depan BPJS mampu memberbaiki sistemnya menjadi lebih baik. Buat apa biaya murah tapi nyawa menjadi taruhan?

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s