Posted in Gowes

Gowes itu bukan tentang sepeda

Setiap minggu pagi, saya berusaha gowes dengan rute yang lebih jauh dan berbeda dari hari-hari biasa. Soalnya waktunya panjang, tidak terbentur jam kerja😀 Kemarin, saya nyepeda menuju arah Kecamatan Tlogowungu. Saat itu masih cukup pagi, sekitar jam 05.30, tapi sudah cukup terang. Di kejauhan, saya lihat 2 orang goweser mengayuh dengan santai. Meski perlahan-lahan, laju sepeda saya mulai mendekati kedua goweser itu. Saya sempat kehilangan pandangan kepada mereka,  ternyata mereka sudah masuk jalur pedesaan. Saya pun ikut masuk jalur tersebut. Setelah dekat, kedua goweser itupun berhenti dan kami berkenalan. Mereka sudah sepuh, usianya 64 tahun. Tapi gowesnya masih bertenaga. Selanjutnya, sepeda saya mengikuti “rombongan” mereka saja. Soalnya saya belum tahu rutenya. Daripada nyasar?😀 Ternyata tembusnya di jalan Pati – Tlogowungu, tepatnya di desa Purwosari.

Ketika di tengah perjalanan blusukan, kami ketemu pertigaan. Ke kiri —kata si Bapak— menuju waduk Gembong. Nah, kami ngambil yang ke arah kanan (Ds Purwosari). Di perjalanan, si Bapak cerita tentang segala hal. Saya sebagai pendengar sangat menikmati kebersamaan dalam gowes kali ini. Gowes sepanjang 17 km itu jadi nggak kerasa jauhnya. Jadi benar adanya, bahwa gowes itu bukan tentang sepeda, tapi tentang kebersamaan.

 

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s