Posted in Alay, Curcol

Kilas Balik tentang Hobby Bersepeda Saya

Ada kawan bertanya, kenapa tiba-tiba saya hobby bersepeda. Saya akan cerita sedikit. Kilas balik.

Beberapa tahun kemarin, saat mengendarai kendaraan pulang ke rumah, saya melihat kawan saya yang lain, yang berusia 60 tahunan, sedang bersepeda dengan gagahnya. Dalam hati, saya juga ingin bersepeda seperti itu. Rutin gowes. Teman saya itu tampak awet muda. Enerjik. Masalahnya, saya belum punya uang untuk membeli sepeda. Sepeda di atas Rp 1 juta, saya anggap mahal. Jadi, sepedanya nggak dibeli-beli😀

Anak saya punya sepeda lipat, mereknya Best Friend. Dipakai setiap hari untuk transportasi ke sekolah. Suatu ketika, ban sepedanya kempes. Dia bolos sekolah karenanya. Sepeda lipat itu saya perbaiki di bengkel sepeda. Bisa dipakai kembali untuk transportasi ke sekolah. Selang beberapa waktu, ban sepeda kempes lagi. Bisa jadi ban dalam atau ban luar kualitasnya sudah jelek (karena usia pakai) atau memang jelek (baru tapi mudah bocor). Saat itu saya buta soal sepeda. Apa-apa mengandalkan bengkel sepeda. Itupun bengkelnya kadang buka kadang tidak😦

Saya putuskan membelikan sepeda baru jenis MTB untuk anak saya sekolah. Mereknya Phoenix. Harganya Rp 850 ribu. Sepeda MTB paling murah di toko😀 Di toko itu pun terdapat sepeda bekas merek Wimcycle. Jenisnya full suspension. Harganya Rp 400 ribu. Putri saya menolak memakai sepeda bekas😀 Nah, sepeda bekas tsb malah saya beli sekalian. Soalnya sudah lama pengen punya sepeda. Bekas pun nggak apalah, yang penting sepeda. Saat itu saya berpikir semua sepeda itu sama. Suatu pemikiran yang sangat keliru😀 Ini kejadiannya bulan Maret 2015 kemarin.

Setiap hari saya gowes dengan sepeda Wimcycle itu. Digowesnya berat, karena ban offroad dipakai di aspal. Bukan peruntukannya. Maklum newbie😀 Lama-lama saya mulai paham part-part sepeda dan bagaimana setting sepeda. Saya mulai belajar ganti ban dalam dan ban luar sendiri dengan “alat praktek” sepeda Wimcycle bekas tsb. Tanpa peralatan standar🙂 Lama-lama saya tertarik punya sepeda baru, yang cocok untuk jalan aspal. Maka saya mulai menabung. Setelah uangnya cukup, akhirnya saya meminang sepeda Polygon Heist 2.0 dengan harga Rp 3.150.000,- Ini terjadi tanggal 14 Mei 2015. Mahal? Buat saya sih iya. Tapi worth it lah om, soalnya Polygon gitu looo… Sepeda produksi Indonesia yang sudah mendunia. Bangga pakai Polygon.😀 Tidak ketinggalan, saya juga melengkapi tools dan spare part sepeda ini, sehingga sewaktu-waktu mengalami masalah, dapat diperbaiki sendiri. Ilmu reparasi makin mahir berkat youtube😀

Dengan sepeda baru, gowesnya jadi rajin😀 Setiap pagi diusahakan  gowes. Jaraknya (awal-awal) 2,5 km sudah ngos-ngosan. Lama-lama jaraknya bertambah jauh. Bisa 4 km. Kemudian bisa 5 km (rutin setiap pagi). Sekarang? 10-12 km. Saya gowes jam 05.05 sampai 05.45 wib. Pulang dari gowes, mandi, sarapan dan siap-siap berangkat kerja. Begitu setiap hari😀

 

One thought on “Kilas Balik tentang Hobby Bersepeda Saya

  1. Salam kenal Pak, cerita saya tentang sepeda baru dimulai 2 minggu yg lalu…. tujuan saya pengen fit badan… sementara blm bisa berexpedisi ke mana? … sebatas bike to work dulu… sambil menggunakan jalur terjauh ke tempat kerja.. .

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s