Pengukuran Kinerja Rumah Sakit (Bagian 2)

*) Tulisan ini merupakan sambungan tulisan Pengukuran Kinerja Rumah Sakit

Untuk mengindikasikan mana klinik yang tidak efisien, digunakan metode DEA untuk membandingkan data produktivitas dari 3 klinik cabang.

Rumah Sakit itu lalu mengidentifikasi lima input sumber daya yang tersedia pada semua cabang:

  1. Jumlah Dokter + Jumlah Tenaga Medis Perawatan
  2. Jumlah Tenaga Medis Non-Perawatan
  3. Biaya operasional klinik (Overhead, Gaji, ATK, dsb)
  4. Biaya investasi pembelian alat medis
  5. Biaya-biaya pada Instalasi Farmasi

Lima kelompok output juga diidentifikasi:

  1. Jumlah Pasien Rawat Jalan + Rawat Inap
  2. Jumlah Pasien Laborat + Radiologi
  3. Pendapatan (Revenue) klinik
  4. Bed Occupancy Rate (BOR)
  5. Pendapatan Instalasi Farmasi

Pengukuran dilakukan pada periode yang sama, misalnya selama 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, dst…
Misalnya didapat hasil pengukuran selama 1 bulan, sebagai berikut:

Screenshoot Output

Screenshoot Input (MS Excel)

Solver MS Excel

Tampilan MS Excel

Sayang, gambar di atas tidak jelas terbaca. Intinya, jika efisiensi = 1 (ditunjukkan sel B.16) maka artinya klinik tersebut efisien. Kasus di atas adalah rekaan semata, saya hanya ingin mengilustrasikan bahwa indikasi inefisiensi dapat dilakukan dengan membandingkan sejumlah input dan output, yakni dengan menggunakan metode DEA (Data Envelopment Analysis).

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s