Piknik!

Minggu pagi jam 05.00 wib saya udah siap-siap gowes uphill ke waduk Gunungrowo. Tapi gak jadi. Anak bungsu (5 thn) keburu bangun dan malah minta ditemenin bobok sama ayahnya. Dia lagi pilek dan batuk, maka sifat manjanya makin menjadi. Untung ayahnya fleksibel. Gak jadi gowes pun gak masalah. Hari Minggu kan hari keluarga. Ngalah demi anak sudah jadi kewajiban:)

Sebetulnya anak-anak minta diantar berenang. Si bungsu sampai merengek minta berenang. Tapi berhubung dia lagi batuk pilek, rekreasi saya usulkan ke waduk Gunungrowo. Piknik! Maklum, kami ini wong ndesa yang kurang piknik. Hehehe…. Brangkat..!!!

Sampai di Waduk Gunungrowo sekitar jam 08.45 wib. Langsung pesan ikan bakar di salah satu warung lesehan. Sebelum makanannya datang, foto-foto dulu dong.

13775957_685096854973659_1661955584893522025_nPas makanannya datang, foto-foto lagi. Hahaha…

13782166_685096941640317_5482845910235315349_nSaya bilang ke anak-anak, acara piknik gini yang penting justru foto-fotonya. Hahaha…

Akhirnya makanan disajikan semua… Porsi nasinya banyak, mungkin rata-rata yang mampir makan di sana adalah para pesepeda yang notabene makannya banyak😀

13770269_685097011640310_7411130104704138435_n13775764_685096898306988_3666302657619908932_n13769571_685096908306987_2027875757491483540_nTapi jangan salah, biarpun awalnya pada bilang, “Wah, nasinya banyak banget“, tapi pada akhirnya habis dilahap semua… Mungkin situasinya enak banget dan membuat makan terasa nikmat…

Setelah makan ikan bakar selesai, dilanjut jalan-jalan keliling waduk pakai kendaraan. Jalan sekeliling waduk sempit. Repot kalau papasan dengan kendaraan lain. Cuma jalan mengelilingi separuh waduk trus kendaraan kami memutar balik dan pulang menuju ke rumah. Si bungsu merengek (lagi), ternyata dia masih betah di waduk dan gak mau pulang. Waduh…

Liburan #4: Solo – Pati via Semarang

Sebelum meninggalkan kota Solo, kami mampir ke PGS (Pusat Grosir Solo). Nyonyah membeli beberapa daster untuk dipakai sendiri. Kalau saya sih sudah membeli 2 buah kemeja batik sehari sebelumnya di Ria Batik. Murah meriah, harganya 87 ribu dan 44 ribu.

Sekitar jam 10.00 wib kami oteweh ke Semarang. Jam 12.30 wib mampir dulu ngisi perut di Soto Seger Mbok Giyem Boyolali.

13615005_678891255594219_6887293817317639493_nSaya tiba di Pati jam 15.45 wib.

Liburan #3: Candi Sukuh

Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut. Candi ini terletak di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Jalur menuju candi Sukuh cukup berat buat mobil kami yang hanya 1500cc. Pantas saja, 30 tahun silam orangtua kami dengan mobil 1000cc nggak berani naik ke candi Sukuh ini.
Jadi bisa dibilang ini adalah momen balas dendam nanjak ke candi Sukuh dengan mobil yang lebih baik spesifikasinya😀

Sayang, candi Sukuh sedang direnovasi, sehingga bentuknya yang menyerupai piramida suku Maya tidak jelas terlihat ketika kami berkunjung ke sana.

Nyomot di http://travelingyuk.com/fakta-candi-sukuh/
Nyomot di http://travelingyuk.com/fakta-candi-sukuh/

idulfitri89_01idulfitri89_02idulfitri89_03 Continue reading “Liburan #3: Candi Sukuh”

Liburan #2: Tawangmangu

Kami akan meninggalkan Red Planet Hotel jam 08.30 wib.


Sebelum meninggalkan hotel, sarapan di Kopi Oey punya Bondan Oeynarno, di lantai dasar hotel Red Planet. Selanjutnya kami menuju Keraton Surakarta Hadiningrat.

Sampai di keraton Surakarta Hadiningrat jam 9 kurang. Keraton belum dibuka, baru nanti jam 9 teng! Jadi, kami sepakat naik andong dulu mengelilingi keraton dengan tarif Rp 50 ribu.

Ada satu lokasi di dalam keraton dimana pengunjung tidak diperkenankan memakai sandal dan kacamata hitam. Nyeker seperti anak pantai😀

Dari keraton, selanjutnya menuju ke Tawangmangu. Macet parah nda! Sampai Tawangmangu sekitar jam 13.00. Langsung check-in di  hotel Bintang Tawangmangu. Selanjutnya, kami naik mobil ke obyek wisata Air Terjun Grojogan Sewu yang letaknya tidak jauh dari lokasi hotel, sekitar 700 meter sampai di pintu loket Grojogan Sewu.

Puas main air, kami segera  meninggalkan lokasi Grojogan Sewu sekitar jam 15.30. Langsung nyari makan…

Nyeleksi tempat makan yang representatif sepanjang jalan menuju Cemara Sewu, eh malah bablas sampai Telaga Sarangan. Yasudahlah… malah bagus, sehari dapat 3 tempat wisata. Hihihi…

Di Sarangan, anak-anak naik speedboat mengelilingi telaga dengan tarif Rp 60 ribu untuk 1 kali putaran.

Dari Sarangan, kami kembali ke Hotel Bintang Tawangmangu.

Ada satu catatan tentang Telaga Sarangan. Petunjuk ke arah telaga sangat minim. Di Cemara Sewu, saya sempat ragu juga, apa benar yang saya lalui ini menuju telaga Sarangan? Karena di perjalanan tsb ada 2 persimpangan yang tulisannya Magetan. Harusnya obyek wisata sekelas Telaga Sarangan memiliki petunjuk juga.

Lebaran

Ini cerita singkat tentang kegiatan lebaran kemarin. Sehari menjelang lebaran, kepala saya terasa sedikit nyut-nyutan. Ini pula yang menyebabkan saya tidak ikut melaksanakan Shalat Ied. Saya baru bangun tidur jam 7 pagi (akibat sakit kepala tidak kunjung reda)😥

Setelah keliling mengunjungi tetangga-tetangga untuk mengucapkan selamat Idulfitri, kami bergegas ke kediaman mertua yang jarak rumahnya tidak sampai 1 km dari rumah😀 Di sini kami makan opor ayam dan sambal goreng.

idulfitri67_01Selanjutnya kami menuju Juwana, tempat kediaman keluarga yang sepuh. Suguhannya sate ayam, dan gulai ikan. Gulai ikannya enak. Tapi biasanya di balik makanan enak, tersembunyi kolesterol jahat. Hiks.. hiks

Dari Juwana, kami langsung kembali pulang ke rumah. Saya sempat tidur siang di rumah. Sakit kepala menghilang setelah bangun tidur. Sore hari, saya paksakan bersepeda keliling kota Pati untuk mencari keringat dan membakar lemak yang ditimbun sejak pagi hingga siang. Toko-toko masih pada tutup.

idulfitri67_02Malam hari, kembali ke rumah mertua untuk makan malam😀 Diisi kuah opor ayam dan emping. Horor ini mah…😀

idulfitri67_03 Continue reading “Lebaran”

Ngabuburide #9: Mini Bukber

Om Yogha ngajakin ngabuburide. Prinsipnya saya siap. Saya langsung balas bbm-nya. Tapi berhubung saya masih ngantar istri beli bumbu dapur di warung mbak Sri, acara ngabuburide saya janjikan start jam 16.30 wib.

Untung bisa pulang on time. Om Yogha bilang mau pakai baju santai. Saya yang awalnya mau pakai jersey sepeda, gak jadi pakai. Biar serasi, saya pakai kaos oblong biasa.

Jam 16.30 wib saya menuju ke tempat om Yogha. Saya gak tahu persis di mana rumah om Yogha. Saya nunggu di gang 3. Eh, om Yogha keluar gang 1, gak melihat saya yang berdiri di depan gang 3. Kita malah selisipan jalan😛 Buru-buru saja susul dengan sepeda kumbang urban *istilah dari mana nih?

Kami nyepeda berdua melalui dukuh Bletek di Plangitan. Tembus di pasar Pragolo Pati. Berhubung masih agak lama dari waktu bedug Maghrib, kita manfaatkan untuk foto di air mancur yang berwujud kran melayang. Jujur, saya lebih pede dan nyaman pakai jersey sepeda daripada kaos oblong. Pakai oblong kelihatan endud😛

ngabuburide9_01Di sini saya sempat bertukar pasangan sepeda. Fakta yang saya dapatnya setelah mencicipi sepeda Premier 4 punya om Yogha:

  • Sepedanya jauh lebih ringan bobotnya dibanding sepeda saya. Mungkin sekitar 3-4 kg lebih ringan. Maklum, sepedanya minim asesoris. Ban sepedanya pun berbahan kevlar.
  • Walau ban sepedanya ber-knobby, tidak terasa berat digowes. Saya jadi penasaran, apa karena faktor crank hollowtech II membuat efek ringan saat digowes?
  • Sadel WTB Pure-V tidak senyaman kata teman-teman. Saya lebih cocok pakai sadel gambot. Walau di-bully om Yogha, katanya bobot sadel memberi kontribusi 5 kg sendiri dari total bobot sepeda. Yang penting saya lebih nyaman menindihnya😛
  • Rem hydrolic sangat ringan dioperasionalkan, tapi repot dalam perawatan. Rem kanan sepeda om Yogha perlu di-bleeding ulang karena sudah ngempos. Minyak rem tuas kanan diisi minyak kayu putih oleh om Yogha. Mungkin sudah menguap separo, katanya. Wah, bahaya tuh om…

13502988_1390892387592500_7690745619653748895_oKetika sepeda Premier 4 saya naikin, posisinya sangat menunduk ke bawah. Usut punya usut, tekanan angin di fork depan sangat kurang. Ketika om Yogha yang naikin gak terlalu menunduk. Maklum, om Yogha main di kepala 6, sedang saya nyaris menyentuh kepala 8 dalam satuan kilogram. *you know what I mean
Saya nggak cocok nyepeda posisi nunduk seperti ini. Sebentar nyoba sepeda om Yogha, pinggang saya langsung boyokan. Hiks.. hiks..

Acara berikutnya adalah buka puasa di warung depan rumah sakit KSH. Mini bukber, sama seperti judul tulisan ini. Cuma berdua doang. Minumnya teh manis saja, nggak pake makan. THR belum cair😛

ngabuburide9_03See you next trip