Gowes kewer-kewer… dengan ban Kenda Karma Pro 26×2.10″

Advertisements

[Rencana] Sepeda hybrid menjadi 26er

Dua tahun lebih saya menunggangi sepeda hybrid Polygon Heist 2.0 keluaran 2015. Dua kali melakukan penggantian fork. Pernah pakai rigid. Dan sekarang (masih) pakai fork Suntour XCR 29″.

Ban 700x38c terasa terlalu kurus, relatif licin ketika dilakukan pengereman mendadak. Timbul niat menggantinya dengan ban kevlar 26×2.10″. Tujuannya biar lebih aman ketika dibawa trabasan dan juga di turunan curam. Pakai ban 700x38c semi slick sering ngesot. Kenapa gak pakai ban hybrid? Saya beranggapan uphill dengan ban kevlar 26×2.10″ lebih enteng gowesannya daripada ban 700x38c wired. Ini juga salah satu alasan saya ingin mencoba pakai ban kevlar 26×2.10″. Emang muat di Heist? Belum tahu… Belum pernah dicoba. Yang sudah pernah dicoba dipasang di frame Heist adalah ban 26×1.95″. Muat. Dites jalan melindas obstacle berupa tali tambang yg membentang di cor beton terasa empuk. Beda banget dengan ban 700x38c yang tekanannya sampai 75 psi (keras).

Yang mungkin banyak dipersoalkan adalah perbedaan geometri frame 29er dengan 26er. Buat saya sih gak masalah, toh saya bukan atlit yang mencari kecepatan dengan ukuran-ukuran yang optimal. Buat saya cukuplah bila bisa bersepeda menjalin kebersamaan bersama teman-teman.

Persoalan lain adalah semakin rendahnya posisi BB. Ban 700x38c memiliki diameter luar 700mm. Ban 26×2.10 memiliki diameter luar 660mm (bener gak sih? cmiiw). Selisih 40 mm alias 4 cm. Dengan kata lain, posisi BB akan turun 2 cm dari kondisi sekarang. Untungnya, fork ori NEX (travel 63) sudah saya ganti dengan XCR 29″ (travel 80). Ada kenaikan posisi BB sekitar 1 cm dari posisi BB dengan fork ori. Mungkin ada yg kritis berpikir kenapa kenaikan BB bukan 80-63= 17 mm? Sebab yg “ditinggikan” hanya di depan, sedang di belakang tidak berubah. Jadi kurang lebih kenaikan BB dianggap separonya saja. Sama temen bolehlah dibulatkan jadi 1 cm 🙂

Kembali lagi ke penurunan BB yang 2 cm ini telah dibantu dengan peninggian travel fork, sehingga penurunan BB riil mungkin hanya sekitar 1 cm saja. Saya rasa masih aman lah ya buat bersepeda di aspal pedesaan… btw, jarak ujung crank arm ke tanah saat sepeda tidak dinaikin (masih 700x38c) jarak terendahnya 12,5 cm.

[foto] polygon heist dengan ban 26×1.95″

 

Sepeda Aing Kumaha Aing

Tas frame yang selalu terpasang di sepeda saya berisi multi tools, lensa kacamata, ponsel dan duit (biasanya 30 sampai 70 ribu rupiah saja). Tas pannier berisi ban dalam cadangan 3 pcs, pompa mini, cungkil ban, pemutus rantai, kaos oblong daleman buat ganti, dan handuk kecil. Di sepeda saya juga ada speedometer, kaca spion, lampu senter dan bel elektrik. Pokoknya rameee 😀 Ditambah adanya fender.

Waduk Seloromo, Kec Gembong, Kab. Pati

Selpi

Bagi saya ini bukan gaya-gayaan, tapi sebuah kebutuhan. Efek positif secara psikologis, membuat bersepeda menjadi lebih tenang. Barang-barang semua itu ada setelah melalui perjalanan waktu.

Via Kedungbulus

Karakter saya bergaya touring, nggak terpengaruh sepeda teman-teman yang pakai MTB semua

Akrab di meja makan

Buat saya, bersepeda yang paling penting adalah soal kenyamanan. Saya pun tidak ragu-ragu menggunakan sadel lebar berpegas. Sadel semlohai ini justru paling nyaman buat saya. Bikin jelek tampilan? No problemooo… sepeda aing kumaha aing 😀

Sarangan & Sangiran

Disaat para pemudik kembali ke kota asalnya masing-masing karena cuti bersama sudah hampir habis, saya justru baru mau liburan. Tapi gak bisa lama-lama. Cukup ambil cuti tahunan (lagi) selama 2 hari, yang waktunya saya tempel dengan hari Minggu. Jadi saya punya waktu libur tiga hari 😀

Saya pakai waktu libur ini untuk jalan-jalan ke telaga Sarangan di Magetan Jatim. Juga ke museum manusia purba Sangiran.

Berhenti di Tawangmangu untuk istirahat

Makan bekal nasi rendang (bikinan istri)

Baru sampai di Telaga Sarangan

Naik speedboat Rp 60 ribu sekali putar telaga

Bermalam di Hotel Amaris Solo (Rp 330 ribu per kamar semalam)

Museum Sangiran (Tiket masuk Rp 20 ribu + parkir Rp 5 ribu)

Saru

Dan sebelum kembali ke Pati, niatnya mampir ke waduk Kedung Ombo. Hanya waduknya (Kedung Ombo) tertutup pagarnya. Volume airnya pun kira-kira hanya tinggal separonya. Mungkin ada jalan akses menuju tepian waduk, tapi saya malas blusukan. Kayaknya jalannya sempit dan gak bagus kondisinya. Ini terjadi ketika Google Maps menunjukkan jalan blusukan, saya was-was… saya pun tetap mengikuti jalan aspal (yang kondisinya sebenarnya juga sudah retak-retak tidak terawat). Eh, ternyata sampai di pintu masuk waduk yang pagarnya tertutup. Jadi gagal deh acara mampir di Kedung Ombo. Jauh lebih puas wisata ke waduk Gunung Rowo Pati deh… jalan aksesnya bagus, dan ada tempat makan-makannya 😛

-oOo-

#LatePost

Ini kegiatan cuti paska Lebaran. Di tempat saya tidak ada cuti bersama. Libur cuma 2 hari (25-26 Juni 2017) saja. Saya ambil cuti tahunan tanggal 28 Juni 2017 untuk perjalanan ke Semarang. Kebetulan kakak saya sedang mudik ke Semarang jadi sekalian ngepasin waktunya biar bisa ketemuan.

Acaranya hanya ke TransMart Banyumanik, makan soto Pak Man dan ke Gereja Blenduk buat berfoto ria saja. Cukup untuk melepas kangen 😀

TransMart

Tea house @TransMart

Soto Pak Man

Gereja Blenduk Semarang