Mak Comblang 24 Karat

Iklan

Cupu! Bikin Video dengan Kamera 200 ribuan

Bersepeda ke waduk Gunung Rowo minggu kemarin, didokumentasikan hanya dengan action cam ecek-ecek 200 ribuan… Nah, di video kali ini, aku mencoba tantangan untuk diriku sendiri, yaitu membuat video sebagus mungkin dengan kamera seadanya. Mau gimana lagi? Aku cuma punya action cam BCare X2. He he he…

Kendala utamanya adalah aku kekurangan crew, karena “one man show”. Aku yang jadi talent, yang syuting, sekaligus editing. Ribet ya ternyata… Belajar editing juga kilat… cuma 4 hari aja… Selama 4 hari ini aku mengunduh video-video tutorial #AGUNGHAPSAH dan #MUDZIL kemudian aku terapkan di video ini. Kendala lain, saat di rumah aku nggak punya waktu banyak buat editing… bikinnya dicicil setelah pulang kerja mulai jam 17.00 WIB. Aku batasi hingga jam 20.30 WIB. Khusus saat rendering, pengerjaan hingga pukul 22.00 WIB. Jam tidurku berkurang karena mengerjakan editing video ini… ha ha ha…

Banyak yang bilang, bukan “senjatanya” yang paling penting… tapi “man behind the gun”-nya lah yang memegang peranan… Tapi… dengan kamera ecek-ecek 200 ribuan ini aku memang gak bisa berharap banyak lah ya… wkwkwkwk…

BTW, berbeda dari video-video sebelumnya, kali ini aku berusaha membuat video dengan mengutamakan kualitas. Biasanya sih aku hanya mengejar kecepatan aplotan. He he he…

Dalam video ini, apa saja yang berbeda dari video-videoku sebelumnya?
1. Narasi/storyboard. Biasanya bikin tanpa storyboard. hahaha. Aku belajar dari Agung Hapsah.
2. Intro. Dibuat pakai After Effect. Aku pakai template yang aku dapatkan gratis di internet. Lupa link-nya.
3. Cinematic bar. Garis hitam di atas dan bawah video. Aku belajar dari Mudzil.
4. Effect Warp Stabilizer. Aku belajar dari Agung Hapsah.
5. Color Grading. Aku belajar dari Mudzil.
6. Teknik “slow motion” untuk mengurangi efek “shaky”. Aku belajar dari Agung Hapsah.
7. Outro. Aku nyontek Agung Hapsah.

 

Ringan mana, ban 26×1.95″ atau 700x38c?

Sebelum memakai ban 26×1.95″, saya memakai ban 700x38c. Bila dikayuh, lebih ringan yang mana?

Ketika masih memakai ban 700x38c, saya hampir selalu menggunakan kombinasi chainring 30t dan gear sprocket 18t. Sepeda melaju di kecepatan 16-17 kpj. Butuh tenaga ekstra untuk membuat sepeda melaju > 20 kpj. Sekarang, dengan ban 26×1.95″, saya tetap menggunakan chainring 30t, tetapi seringnya menggunakan gear sprocket 16t atau 14t. Bahkan kadang-kadang 12t di jalan datar yang mulus. Kecepatan rata-rata di jalan datar 18-19 kpj.

Kenapa ban 26×1.95″ lebih ringan dikayuh?
Analisisnya begini:
– Diameter rims 26″ lebih kecil dari rims 700c. Bobotnya tentu lebih ringan (dengan material yg sama).
– Ruji 26″ lebih pendek dari ruji 700c. Bototnya tentu lebih ringan (dengan material yg sama).
– Ban luar dan ban dalam 26×1.95″ yang saya pakai ternyata bobot keseluruhannya lebih ringan dari ban 700x38c.

Dengan selisih bobot yang saya sebutkan di atas, mematahkan pemikiran saya selama ini, yakni ban 26″ lebih berat dikayuh dari ban 700c. Selama ini saya salah.

Dan… ketika gowes di jalan menanjak pun, lebih ringan dikayuh ban 26×1.95″ daripada ban 700x38c.

Selain unggul karena bobot ban/rims yang lebih ringan, lingkar luar ban 26 pun lebih kecil dari ban 700c.

*keterangan foto: Polygon Heist dengan ban 700x38c dan kenda karma pro 26×2.10″ (ban kenda karma pro 26×2.10″ jauh lebih berat dikayuh daripada ban maxxis sphinx 26×1.95″).

Gowes kebersamaan

Untuk menuju waduk Gembong, ada beberapa jalur aspal yang bisa dilalui sepeda. Jalur yang melalui desa Banyu Urip merupakan favorit saya. Meskipun jalannya paling curam dibanding jalur lainnya. Bila ingin menguji daya tahan di tanjakan, jalan melalui desa Banyu Urip hingga desa Bermi adalah pilihan yang tepat. he..he..he.. Kita bisa merasakan sensasi “kewer-kewer” di sini. Tidak apa kewer-kewer, asalkan tetap bahagia… :-p

Pada event gowes kebersamaan kemarin, ada banyak kejadian. Ada yang nuntun sampai tiga kali. Ada yang masuk got. Ada yang rantai sepedanya putus. Tapi, poin terpenting adalah kebersamaan. Berangkat bersama, sampai tujuan juga harus bersama. Dan ini yang selalu kita pegang bersama…

Salam gowes!

 

Sepeda

Ketika saya masih SD, pernah memiliki sepeda BMX. Saat SMP vakum. Waktu SMA pernah memakai sepeda gunung Raleigh. Setelah itu vakum bersepeda. Hingga awal tahun 2015, saya masih belum mengenal jenis-jenis sepeda. Dalam pikiran saya, sepeda adalah alat transportasi. Sepeda hanya dibedakan dari bentuk dan fiturnya. Ada yang model balap. Model sepeda gunung. Model sepeda mini. Dan sepeda lipat. Ada yang pakai operan gigi ada yang tidak. Pokoknya pemahaman yang dangkal sekali.

Ketika saya hendak membelikan sepeda untuk anak saya, saya mencarikan yang murah tapi layak dikendarai. Hingga saatnya, saya berkeinginan memiliki sepeda untuk sarana olahraga. Saya pun membeli sepeda bekas merek Wimcycle. Belakangan baru tahu bahwa sepeda itu masuk kategori “recreational full-suspension mountain bike“. Selain bobotnya yang berat (19 kg), dipakai di aspal pun sangat berat. Biar kelihatan gagah, saya pasang ban Deli 26×2.35”. Apalagi ditambah efek bobbing dari suspensi coil. Meskipun saya membeli sepeda bekas ini dengan harga “hanya” 450 ribu rupiah, tapi saya menyesal telah membelinya.

Selanjutnya, saya membeli sepeda Polygon Heist 2.0, karena banyak yang berpendapat sepeda ini ringan dikayuh. Toh, pemakaian saya hanya di jalan aspal. Tapi, benarkah Polygon Heist 2.0 ringan dikayuh? Mengingat sepeda pertama saya adalah Wimcycle seperti yang saya ceritakan sebelumnya, maka saat kali pertama mengendarai Polygon Heist ini ya jelas terasa sangat ringan dikayuh. Meskipun crank bawaannya 48-38-28t. Lama-kelamaan, rasa “ringan” ini berubah menjadi “berat”, apalagi ketika mulai sering diajak nanjak. he..he..he.. Kaki ini mulai manja. Ditambah banyak racun betebaran di dunia maya. he..he..he.. Jadilah saya melakukan upgrade sana-sini. Tujuan utamanya cuma satu: agar sepeda ringan dikayuh saat melahap kewer-kewer di tanjakan. Maklum, di Pati banyak tanjakan aduhai.

Bahkan, saya pernah memakai fork rigid dan ban 700x28c demi memenuhi kebutuhan “uphill“. Eh, masih terasa berat juga. Trus aku kudu piye, Sri? Saya mulai berpikir, jangan-jangan rim 700c tidak cocok buat saya. Bagaimana bila mencoba memakai rim 26″? Duh… keluar biaya lagi…

Saya sempat memakai ban Kenda Karma Pro (kevlar) ukuran 26×2.10″ dan ban tanpa merek ukuran 26×1.75″. Belum sreg karena saya merasakan ban Kenda Karma Pro 26×2.10″ malah terasa lebih berat dari ban 700x38c.

Akhirnya, saya mencoba ban Maxxis Sphinx 26×1.95″. Nah, disini lah saya menemukan kecocokan. Ban ini selain ringan bobotnya, karakteristiknya pun ramah dengan aspal. Intinya saya cocok. Dipakai nanjak, sudah terasa enak. Meskipun tetap terseok-seok. he..he..he.. Inilah akhir petualangan “upgrade” saya… mudah-mudahan tidak ada “upgrade” lagi ya… he..he..he…

Salam gowes…!!