Gowes Santai

Minggu pagi waktu bersepedaan panjang, jadi gowesnya bisa santai. Tapi kalau gowes sendirian nggak betah juga lama-lama berkelana.

Oh iya, ada tempat baru di Pati yang menjual produk-produk unggulan khas Pati, termasuk makanan. Nama tempatnya Pasar Pragolo, letaknya persis di samping gerbang masuk kota Pati dari arah Kudus. Saya belum pernah masuk ke dalam, nunggu kapan waktu yang pas aja nanti ngajak keluarga ke sana😀

13062904_644698192346859_1686413541211007902_o13063028_644698195680192_3038762548975623333_o13071806_644698189013526_2373225995758291093_o

Bukan Operasi Simpatik

Hari Minggu kemarin, kami bermaksud menghadiri acara arisan keluarga di Klaten. Saya mengambil rute melalui Semarang. Dari Pati, kami berangkat dengan mobil pribadi pada pukul 05.30.
Saat akan memasuki wilayah pasar Demak (nggak tau nama pasarnya), jalan pantura ditutup karena ada Car Free Day (CFD), dan arus kendaraan dialihkan melalui jalan yang sejajar sungai (nggak tau nama sungainya). Saya ikuti saja mobil di depan, karena saya nggak tahu jalur mana yang harus dilalui untuk kembali ke jalur pantura.

Berhubung saya menyetir dengan selow, mobil yang di depan saya (yang saya ikuti sebagai penunjuk jalan) menghilang dari pandangan. Pas ketemu pertigaan, bingunglah saya. Harus lewat mana? Saya ambil jalur yang lebih lebar saja, begitu pikir saya. Pas mendekati terminal, bingung lagi, mana jalur yang benar? Istri saya bilang, “lurus saja kan di sana (ujung jalan lurus) ada Polisi”. Saya manut. Saya ambil jalur yang berada di samping terminal. Dua orang polisi sudah menunggu di ujung jalan samping terminal Demak. Mobil kami di stop, dan salah seorang polisi itu minta STNK saya, kemudian kami langsung ditilang. Menurut polisi saya melanggar rambu. Saya mungkin klilaf. Jujur saja, saya ini orang yang sangat patuh terhadap peraturan lalu lintas. Kalau melanggar, tentu karena ketidaktahuan saya sebagai manusia biasa. Sepuluh tahun mengemudi di jalanan Jakarta dan sepuluh tahun mengemudi di wilayah karesidenan Pati, saya belum pernah ditilang. Ini kali pertama kena tilang. Inipun akibat kebingungan dengan pengalihan jalur lalu lintas yang menurut saya akibat kurang jelas petunjuk jalannya.

Saya sempat protes ke polisi yang bertugas di sekitar terminal. Mengapa mereka tidak berdiri di persimpangan jalan dan TIDAK mengarahkan kendaraan agar tetap berada di jalur yang benar. Yang saya rasakan, polisi-polisi di sekitar terminal Demak terkesan “menjebak” pengendara yang kebingungan (termasuk saya). Istilahnya: the right man on the wrong place. Seharusnya mereka berdiri di persimpangan yang berisiko membingungkan pengendara luar kota. Takut kepanasan mungkin?

IMG_20160417_072302Beberapa pengendara lain yang tertilang semuanya merupakan pengendara dari luar kota yang kebingungan dengan pengalihan jalan. Ada satu pengendara wanita yang mau nangis karena rumahnya jauh dari Demak. Nggak mungkin balik ke Demak hanya sekedar ikut sidang pengadilan. Dia numpang lewat jalur pantura di area Demak. Polisi itu tidak berusaha memperingatkan pengendara yang salah jalur, tetapi langsung tilang.

IMG_20160417_072338IMG_20160417_072334Berbeda dengan polisi yang bertugas di sekitar area CFD di kota Pati. Bila ada pengendara bermotor yang masuk jalur CFD, mereka (pengendara) disetop dan disuruh putar balik (tidak  langsung tilang seperti polisi di sekitar terminal Demak). Polres Pati bekerja baik dan simpatik. Saran saya: anggota Polres Demak studi banding ke Polres Pati bagaimana menjadi simpatik seperti anggota Polres Pati. Di setiap jalur yang mengarah ke area CFD di Pati, pasti dijaga petugas (entah itu polisi atau satpol PP). Tugasnya mengarahkan pengendara bermotor yang hendak memasuki area CFD.  Polisi harusnya mengayomi dan membimbing. Jangan langsung main tilang-tilang saja.

Sanggup menjadi simpatik, Pak?

(saya sudah minta ijin untuk menuliskan pengalaman ini dan dipersilahkan oleh polisi yang menilang saya yang bernama Aiptu Herxx Sukxxxx)

Bersepeda dan serangan jantung koroner

Banyak orang mengira, bila seseorang rajin berolahraga, maka hidupnya pasti sehat. Kenyataannya tidak selalu demikian. Pola makan dan kekurangan jam tidur juga mempengaruhi derajat kesehatan.

Pagi-pagi saya bangun cukup awal. Kepagian malah😀 Jam 3 pagi mata udah melolok😀 Buka-buka ponsel dan FB. Betapa terkejutnya saya, membaca ucapan belasungkawa kepada salah seorang kenalan saya yang hobi gowes. Dia meninggal akibat serangan jantung koroner. Saya menanyakan kepada kakaknya lewat komen FB. Yang saya belum tahu (padahal ingin tahu banget), apakah terjadinya di rumah atau ketika sedang gowes. Pertanyaan ini belum terjawab sampai detik ini.

Apa itu serangan jantung koroner? Mending baca sendiri dari situs lain deh. Males main copas-copas.😀

Mendadak saya jadi parno. Pagi itu, saya gowes dengan membawa tensimeter. Buat ngukur denyut jantung ketika habis nanjak. Biasanya jantung bekerja sangat keras ketika nanjak dengan sepeda. Nggak percaya? Cobain deh…😀

Ini hasil tensimeter saya….

Continue reading “Bersepeda dan serangan jantung koroner”

Kesiangan = Kepanasan

Minggu pagi niatnya mau gowes jam 5, apadaya bangun kesiangan jam 06.00 WIB. Berangkat gowesnya jam 06.30. Panasnyaaa…!! Niatnya mau nanjak melalui Livewater village alias desa Banyuurip. Gara-gara terik, akibatnya keringat banyak keluar melebihi batas kewajaran. Mau nggak mau minum pun menjadi lebih sering. Baru separo jalan, botol minum sudah kosong melompong. Badan pun lebih lemas dari biasanya akibat efek panas matahari. Nggak pake malu-malu, saya putar balik saja. Meluncur turun dengan derasnya sambil tertawa puas seperti anak-anak yang main perosotan… hahaha

944869_635682956581716_6021139977619478474_n12924422_635682976581714_209223735447807304_n12321430_635682999915045_4671807857479987205_n12670896_635683019915043_4968934177522297345_n

 

Kena Tifus

Minggu kemarin saya mengalami demam 2 hari. Dua kali periksa ke dokter BPJS, dikasih obat yang berbeda. Merasa sakit di perut nggak kunjung membaik, saya putuskan memeriksakan darah “atas permintaan sendiri (APS)”. Saya cek Igm Salmonela dengan biaya umum, yang harganya ternyata lumayan mahal, sekitar Rp 270 ribu. Duit di dompet nggak cukup, cuma bawa Rp 250 ribu. Terpaksa bayarnya di-pending dulu untuk ke ATM terdekat :D  Setelah lunas, dan ngambil hasil lab, dan tarrrraaaa…. Positif Tifus!!

Saya jelas nggak minat kalo rawat inap dengan BPJS kelas 2. Saya khawatir anak-anak akan kehilangan sosok ayah di rumah. Dan kalaupun anak-anak sering bezuk ke rumah sakit, nanti malah tertular bibit penyakit dari rumah sakit. Hmm, saya putuskan berobat jalan saja.

Saya mengkonsumsi obat-obatan “underground” alias bawah tanah. Apaan tuh? Kunir dan cacing tanah😀 *dua-duanya ada di bawah tanah kan?* Obat-obatan alternatif ini dibelikan istri saya di pecinan. Cacing tanah sudah berbentuk kapsul, jadi jangan bayangin  makan “spageti” ya… hahaha

Obat-obatan "underground" dari pecinan
Obat-obatan “underground” dari pecinan

Senin pagi saya berobat ketiga kalinya ke dokter BPJS. Dikasih obat antibiotik Lovofloxacin dan surat keterangan istirahat 2 hari. Obat dari dokter BPJS pun saya minum.

Selasa pagi, saya merasa sudah pulih dan hari Rabu kemarin sudah bekerja seperti biasa.

 

Pelorodan Semar

Apakah Semar itu benar-benar ada dan merupakan penduduk Kayen? Kayaknya nggak lah…😀

Bermula dari informasi yang saya peroleh dari kawan, tentang keberadaan obyek alam yang menarik di daerah Kayen, Kab. Pati yang disebut “Pelorodan Semar“, saya pun mencari tahu lebih lanjut tentang obyek yang tampaknya menarik untuk selfie dikunjungi. Saya memperoleh informasi lengkap di situs ini.

Minggu pagi, saya dan teman-teman rumah sakit berkumpul di Klinik KS24 Pati dan selanjutnya kami berangkat bersama-sama menuju Pelorodan Semar di Kayen. Saya membawa keluarga naik mobil ke sana, sedangkan teman-teman berboncengan naik motor. Di desa Tanjang, mampir sebentar untuk mengisi BBM.

psemar01

Jarak tempuh dari Pati kota, ke RSUD Kayen adalah 20 km, dan dari RSUD Kayen ke TKP sekitar 5,3 Km. Kendaraan diparkir di pinggir jalan desa.

SNV31694

Selanjutnya kami bersama-sama jalan kaki ke lokasi yang disebut penduduk setempat dengan nama Pelorodan Semar. Jalan kaki hanya 5 menit. Cukup ringan dibanding obyek wisata alam curug-curug lainnya, seperti air terjun Tretes di Tlogowungu dan Grenjengan Sewu di Gunung Wungkal, Kab Pati. Makanya saya berani membawa keluarga mengunjungi obyek wisata alam ini.

FB_IMG_1457883278914

Sampai di lokasi, kami langsung main perosotan eksplor spot-spot menarik untuk selfie. No pics = hoax kan? Hahaha…

psemar02

psemar05
Continue reading “Pelorodan Semar”

Sejarah Bersepeda Saya

Walau pakai judul dengan kata “sejarah”, bukan berarti saya orang penting. Tulisan ini pun nggak penting (banget). Nggak dibaca juga nggak apa-apa. hahaha….

Bulan Maret 2015 adalah saat dimana saya mulai melakukan hobi bersepeda. Dulu jarak tempuh bersepeda “cuma” 1,7 km. Pakai sepeda bekas yang saya beli seharga Rp 400 ribu di toko di ruko Puri, Pati. Sepeda merek WimCycle fulsus (double crown – suspensi koil) dengan bobot 19 kg. Digenjotnya sangat berat (bila dibanding sepeda saya yang sekarang). Ada harga ada rupa. Hahaha…

Di bawah ini adalah track bersepeda saat kali pertama saya bersepeda (kiri) dan track sepeda hari ini (kanan).

Endomondo Sport Tracker
Endomondo Sport Tracker