Bukit Naga

Saya gak percaya bahwa naga itu ada. Tapi berhubung mulai nge-hits, naluri detektif saya sontak muncul. Setelah mengumpulkan informasi yang masih samar-samar, saya nekat  menyiapkan kendaraan tempur dan perbekalan. Tujuannya ke Bukit Naga. Beneran… lokasinya di mana… jaraknya berapa… belum ada informasi yang saya dapatkan dengan jelas. Hanya ancer-ancer saja…

Pagi-pagi saya berangkat dari rumah. Suasana masih gelap… maklum berangkat jam 05.10 wib. Kendaraan tempur saya alias sepeda tiba di pertigaan waduk Gunungrowo jam 06.45 wib.

istirahat di pos ronda... berharap ada pesepeda lain yang akan ke Bukit Naga
istirahat di pos ronda… berharap ada pesepeda lain yang akan ke Bukit Naga

Berhenti agak lama di sini. Malah jagongan dulu dengan bapak-bapak yang juga baru sampai di TKP dengan sepedanya… beliau hendak ke Waduk Gunungrowo… padahal jarak waduk tinggal 100 meter dari lokasi ini (pos ronda). Saya heran kenapa gak langsung aja ke waduk? Nanggung amat… *meh

Saya bilang ke Bapak itu kalo saya mau ke Bukit Naga… Saya coba manas-manasin si Bapak biar dia mau ikutan ke Bukit Naga… maksud terselubungnya, saya minta ditemenin ke Bukit Naga hehehe!… Saya bilang ke si Bapak… kalo ke waduk saya sudah sering Pak… pengen coba tempat yang baru… mau ke Bukit Naga… Tertarik kah si Bapak? krik.. krik.. krik… GAK!!! Beliaonya tetep mau ke waduk Gunungrowo… ya sudah… tak lama saya pamitan dan melanjutkan perjalanan…

Dari pos ronda tadi, jalannya nanjak terus… sudah 3 km dilalui… akhirnya bertemu rombongan anak-anak SMP yang sedang berolahraga… saya tanya arah Bukit Naga… anak yang ditanya bilang masih lurus… Jauh gak? “Jauh…”, katanya. Saya yang sudah lemas, makin tambah gak bersemangat… tapi saya tetap nekat…mau balik ya isin (malu –red) juga… setelah merayap 1 km… saya tanya ke Bapak-bapak yang sedang nongkrong di pinggir jalan…

Bukit Naga masih jauh Pak?“, tanya saya

1 kilometer lagi“, ujar si Bapak

Semangat saya terpacu. Tapi modal semangat saja tidak cukup. Jalannya sangat curam. Terpaksa saya TTB. Untungnya cuma 100 meter jalan yang curam itu. Abis itu? Malah disambung tanjakan makadam. Uedyaaan… TTB nya berlanjut di jalan makadam.

makadam HANYA 500 meter
makadam HANYA 500 meter

Kira-kira nuntun 500 meter… dan 100 meter makadam terakhir saya lalui dengan sepeda… biar dikira orang-orang bahwa saya ini pesepeda yang handal… melibas makadam… padahal banyakan TTB-nya dan sedikit ruas yang naik sepeda… hehehe

Jadi, dari pertigaan waduk Gunungrowo tadi (tempat jagongan dengan si Bapak)… jarak Bukit Naga ini 4,7 km… 4,2 km berupa aspal dan 500 meter terakhir makadam… paham kan?

Sampai di Bukit Naga… saya puas-puasin motret… apalagi banyak naga di atas bukit… naga yang bersisik… berduri… merah warnanya… BUAH NAGA! Makanya dinamakan BUKIT NAGA…

 

 

Selfie is a must! (tanpa bukti foto nanti dibilang HOAX)
Selfie is a must! (tanpa bukti foto nanti dibilang HOAX)

 

Bukit Naga
Bukit Naga

 

Ketemu NAGA
Ketemu NAGA

Dari lokasi Bukit Naga, kita bisa melihat waduk Gunungrowo dan waduk Seloromo. Pemandangannya keren.

Pemandangannya keren!
Pemandangannya keren!

Dan ada satu pencapaian buat saya pribadi… lokasi ini ketinggiannya 724 mdpl… merupakan rekor tertinggi yang saya capai dengan bersepeda…

Strava ke Bukit Naga
Strava ke Bukit Naga

Di Bukit Naga ini, banyak pedagang buah dan minuman… mereka menggelar lapak di atas terpal plastik. Ada juga pedagang resmi yang menjual aneka juss. Menempati sebuah bangunan. Saya sempat membeli juss buah naga. Saking hausnya, beli 2 gelas juss buah naga… enyoooiiiii…. 😀

Segelas juss buah naga harganya 5 ribu rupiah
Segelas juss buah naga harganya 5 ribu rupiah

-oOo-

Mengapa Anda Makan?

Pertanyaan sederhana. Jawabannya macam-macam, tapi bisa saya kerucutkan sebagai berikut:

1. Sudah masuk waktu makan. Misalnya sudah jam 12 siang … jam istirahat … anda menuju tempat makan dan makan …

2. Memang ingin makan. Walau belum masuk jam makan —karena pengen— Anda pun akhirnya makan. Ini yang menyebabkan obesitas :mrgreen:

3. Karena lapar. Benar-benar lapar. Ini yang seharusnya menjadi alasan kita makan.

Anda termasuk yang mana? Kalau saya seringnya alasan ketiga, sehingga sering tidak peduli dengan apa lauknya, makan apa saja terasa nikmatnya… 

Festival Kuliner Tempo Doeloe

Tanggal 29-31 Desember 2016 diadakan fesrival kuliner tempo doeloe. Lokasinya di Omah Kuno di jl. Diponegoro Pati.

Masyarakat antusias mendatangi acara ini, termasuk keluarga saya … Sampai dua kali ke tempat ini di hari yang berbeda … 

Makanan yang dijual sangat bervariasi … cukup aneh-aneh lah dan lucu namanya … sego tewel … sego menir … pedoyo … tiwul … cetot … lupis … dumbeg …

Mengingat tingginya animo masyarakat akan jajanan tempo doeloe yang dikemas menarik, mudah-mudahan kegiatan seperti ini semakin sering diadakan…

Museum Situs Patiayam

Libur Natal kemarin dipakai jalan-jalan ke Taman Sardi di Dawe, Kab. Kudus. Sengaja lewat jalur Gembong – Colo karena lebih dekat (sekitar 29 km). Ternyata macet parah oleh bus-bus peziarah (ada makam Sunan Muria di Colo). Sejam lebih waktu terbuang akibat macet di Colo. Om telolet om… 😥

Sampai di taman Sardi, ternyata tempatnya malah tutup … Lokasinya sedang disewa … Arrrggghhh…. 😤

Daripada gak piknik blas, yaudah lah … saya putuskan mampir sebentar ke Museum Situs Patiayam. Letaknya di perbatasan Kudus-Pati. Masuk jalan kecil sejauh 1 km dari jalur utama pantura Kudus-Pati. Masuk museum ini gratis. Tempatnya masih jauh dari sempurna. Koleksinya juga sedikit. Walau begitu, lumayan lah buat pengetahuan anak-anak yang memang jarang sekali mengunjungi museum … This is it!

Mie Terbang

Bila ulang tahun, ada sebagian orang yang makan-makan mie … sebagai simbol panjang umur … seperti panjangnya mie itu sendiri …. 🙂

Saya juga pengen makan mie … bertepatan dengan HUT saya … ben koyok konco-konco ne … 🙂

Seporsi Rp 19 ribu. Rasanya yaah … lumayan lah … kalo diukur dengan angka 1-10 … Mie goreng yang ini nilainya 7.

Selain mie terbang, saya juga makan lotek Salatiga … penasaran aja … setahu saya lotek dari jogja … ini kok tulisannya Salatiga … dan kalau di-skor … nilainya 6 aja … 😁

Eh, itu perut apa karung? Kok semua muat ?!?

Crash

Semalam habis turun hujan. Jalanan basah. Pagi-pagi nyepeda seperti biasa, lewat jalur biasa. Pas sampai di turunan, dengan kecepatan sepeda 32 kpj, tiba-tiba dua ekor kucing nyeberang jalan. Kucing muncul dari rerumputan. Salah satunya tertabrak ban sepeda saya. Akibatnya saya nyungsep di aspal. Crash! Posisi jatuhnya ke sebelah kanan.

Ditolongin bapak-bapak yang sedang jalan pagi. Bapak-bapak ini yang selalu saya sapa bila berpapasan dengannya.

Badan saya lecet sekujur tubuh … Maklum gesekan dengan aspal. Mulai dari bahu … Paha … Betis … Pergelangan kaki … Siku … Lengan … Dan kaki kiri lecet sedikit. Untungnya muka dan kepala aman. Ada perlindungan dari helm yang saya pakai. Rantai sepeda lepas … Untungnya tidak putus. Sepeda pun tidak lecet … Hanya hand grip tergores … Dan kaca spion patah!

Pesan moril: pakailah alat pelindung diri setiap kali bersepeda … Kita tidak pernah tahu kejadian yang akan menimpa kita di perjalanan.

Saya sekarang tidak pakai kaca spion. Hand grip pakai tanduk buat perlindungan juga apabila jatuh.

Bukan Polygon Zenith DX 

Coba-coba pasang stang kumis di Polygon Heist. Ujicoba sebentar keliling perumahan, dan dapat disimpulkan:

(+) posisi mengemudi nyaman di punggung dan pantat (postur tegak, dipadu sadel lebar … Maknyus)

(+) rasanya tangan pun tak akan mengalami kesemutan untuk nyepeda dalam waktu lama.

(-) bentuk wagu, gak macho lagi seperti ketika memakai stang united.

(-) handling relatif lebih sulit dibanding stang united, mungkin karena belum terbiasa. Ngeri kalo dibawa meluncur turun dengan kecepatan >40 kpj

(-) kabel rem agak nekuk (akibat kurang panjang, maklum rem beli sekenan)