Gowes ke Waduk Gembong

Pagi ini saya gowes dari rumah jam 05.10 wib menuju waduk Gembong, Kab. Pati, Jateng yang berjarak 14 km. Saya gowes sendiri. 4 km pertama jalan datar, 10 km berikutnya jalan mendaki. Butuh 3 kali berhenti karena kaki lelah dan ada insiden rantai terjepit di chainstay ketika shifting tidak sempurna. Alhamdulillah, sampai juga di Waduk Gembong jam 06.40 wib. Senang sekali rasanya mencapai tujuan. Di waduk saya berkenalan dengan goweser lain yang juga sedang gowes sendirian ke waduk yang datang belakangan setelah saya tiba. Senang sekali teman bertambah :D

image
Istirahat
image
Istirahat lagi
image
Sampai di Waduk Gembong
image
Keren kan?
image
Selfie pakai tongsis
image
Teman baru namanya Ruli

Oh ya, rekor kecepatan bersepeda pecah lagi. Kini 54,7 km/jam. Aslinya bisa lebih cepat lagi. Berhubung di depan ada honda beat, saya nggak enak nyalip. Mosok sepeda yang tidak dikayuh bisa nyalip motor. Jadinya saya rem biar sepedanya pelan-pelan saja. Jadi cuma menorehkan 54,7 km/jam aja :D

Kilas Balik tentang Hobby Bersepeda Saya

Ada kawan bertanya, kenapa tiba-tiba saya hobby bersepeda. Saya akan cerita sedikit. Kilas balik.

Beberapa tahun kemarin, saat mengendarai kendaraan pulang ke rumah, saya melihat kawan saya yang lain, yang berusia 60 tahunan, sedang bersepeda dengan gagahnya. Dalam hati, saya juga ingin bersepeda seperti itu. Rutin gowes. Teman saya itu tampak awet muda. Enerjik. Masalahnya, saya belum punya uang untuk membeli sepeda. Sepeda di atas Rp 1 juta, saya anggap mahal. Jadi, sepedanya nggak dibeli-beli :D

Anak saya punya sepeda lipat, mereknya Best Friend. Dipakai setiap hari untuk transportasi ke sekolah. Suatu ketika, ban sepedanya kempes. Dia bolos sekolah karenanya. Sepeda lipat itu saya perbaiki di bengkel sepeda. Bisa dipakai kembali untuk transportasi ke sekolah. Selang beberapa waktu, ban sepeda kempes lagi. Bisa jadi ban dalam atau ban luar kualitasnya sudah jelek (karena usia pakai) atau memang jelek (baru tapi mudah bocor). Saat itu saya buta soal sepeda. Apa-apa mengandalkan bengkel sepeda. Itupun bengkelnya kadang buka kadang tidak :(

Saya putuskan membelikan sepeda baru jenis MTB untuk anak saya sekolah. Mereknya Phoenix. Harganya Rp 850 ribu. Sepeda MTB paling murah di toko :D Di toko itu pun terdapat sepeda bekas merek Wimcycle. Jenisnya full suspension. Harganya Rp 400 ribu. Putri saya menolak memakai sepeda bekas :D Nah, sepeda bekas tsb malah saya beli sekalian. Soalnya sudah lama pengen punya sepeda. Bekas pun nggak apalah, yang penting sepeda. Saat itu saya berpikir semua sepeda itu sama. Suatu pemikiran yang sangat keliru :D Ini kejadiannya bulan Maret 2015 kemarin.

Setiap hari saya gowes dengan sepeda Wimcycle itu. Digowesnya berat, karena ban offroad dipakai di aspal. Bukan peruntukannya. Maklum newbie :D Lama-lama saya mulai paham part-part sepeda dan bagaimana setting sepeda. Saya mulai belajar ganti ban dalam dan ban luar sendiri dengan “alat praktek” sepeda Wimcycle bekas tsb. Tanpa peralatan standar :) Lama-lama saya tertarik punya sepeda baru, yang cocok untuk jalan aspal. Maka saya mulai menabung. Setelah uangnya cukup, akhirnya saya meminang sepeda Polygon Heist 2.0 dengan harga Rp 3.150.000,- Ini terjadi tanggal 14 Mei 2015. Mahal? Buat saya sih iya. Tapi worth it lah om, soalnya Polygon gitu looo… Sepeda produksi Indonesia yang sudah mendunia. Bangga pakai Polygon. :D Tidak ketinggalan, saya juga melengkapi tools dan spare part sepeda ini, sehingga sewaktu-waktu mengalami masalah, dapat diperbaiki sendiri. Ilmu reparasi makin mahir berkat youtube :D

Dengan sepeda baru, gowesnya jadi rajin :D Setiap pagi diusahakan  gowes. Jaraknya (awal-awal) 2,5 km sudah ngos-ngosan. Lama-lama jaraknya bertambah jauh. Bisa 4 km. Kemudian bisa 5 km (rutin setiap pagi). Sekarang? 10-12 km. Saya gowes jam 05.05 sampai 05.45 wib. Pulang dari gowes, mandi, sarapan dan siap-siap berangkat kerja. Begitu setiap hari :D

 

Asyik

Musim mudik segera berakhir. Kehidupan kota Pati akan kembali seperti semula.

  • Tidak ada lagi perilaku ugal-ugalan terutama perilaku menyalip agresif dari mobil-mobil plat luar kota.
  • Tidak ada lagi yang buang sampah sembarangan ke jalan dari dalam mobil plat luar kota.
  • Tidak ada lagi parkir semrawut di depan Masjid Agung Pati, terutama yang parkir di sekitar plang larangan parkir.
  • Rumah makan tidak penuh sesak lagi.

Asyik! Dah gitu aja :D

 

Ganti Stang dan Stem Sepeda

Sebenarnya, sepeda standar tidak perlu di-upgrade (ganti komponen yang lebih baik) apabila tidak dirasa perlu. Tetapi dimaklumi apabila dirasakan terdapat kekurangan pada salah satu komponen standar bawaan sepeda tsb. Misalnya, ganti saddle dengan yang lebih bersahabat dengan bokong. Saddle bawaan sepeda sering tidak cocok. Keras.

Kemarin, saya putuskan mengganti stang (handlebar) standar yang flat (datar) dengan yang sedikit naik (rise).

Stang + stem standar Polygon Heist 2.0
Stang + stem standar Polygon Heist 2.0

Sekalian ganti stem (pegangan stang) yang lebih pendek. Alasan ganti (yang dibilang ke toko onderdil sepeda): mengurangi efek kesemutan. Alasan pribadi: stang lebar membuat gagah pengendaranya :D  Ini pengamatan saya di lapangan terhadap beberapa goweser lain. Dari jauh mereka kelihatan gagah. Kekar. Bila diamati, stang yang dipakai mereka  lebar-lebar dan menjulang. Makanya saya kepincut ganti stang. Ups:D

Stang Mosso, panjang 70 cm, diameter oversize (OS) saya beli Rp 100 ribu. Stem Zoom 50mm (OS) beli Rp 100 rb. Total Rp 200 ribu. Harga segono bikin tambah pede dan gagah saat gowes. Worth it om… :D

Tambah ganteng
Tambah ganteng

Stem Zoom lebih tipis dari stem standar. Alhasil, headset sepeda saya oblak. Saya tambahi spacer (ring di bawah stem) sebanyak 2 buah dengan ukuran tebal 5 mm. Beli 3 buah ukuran 5 mm merek Nukehead seharga @Rp 5 ribu. Ditambahi spacer, hasilnya tidak oblak lagi. Mantaaap…!!

Stem standar dan stem oversize (OS) pendek
Stem standar dan stem oversize (OS) pendek

Pagi ini saya melakukan test drive stang baru :) Nanjak melewati Nadira Regency. Jarak tempuh 12 km. Mejeng sebentar di depan Samsat Pati.

Di depan Samsat Pati
Di depan Samsat Pati

Komentar teman terhadap gedung Samsat Pati, “Mewah banget…”. Syukurlah, berarti Pati tambah maju :D

Nasi Liwet Bandung

Masih libur lebaran, tukang sayur langganan belum jualan. Biasanya, jualan setelah Lebaran Ketupat. Mau nggak mau belanja di pasar.

Berhubung nggak masak, jadi makan malam di luar. Kami makan di warung tenda di dalam pasar. Menunya nasi liwet. Tapi bukan asli Solo yang berkuah santan, tapi dari Bandung (kata yang jualan). Bentuknya ayam goreng biasa. Saya baru dengar kalau Bandung punya nasi liwet? :D

Nasi Liwet dari Bandung. He he he.
Nasi Liwet dari Bandung. He he he.

Rasanya enak sih, tapi harganya yang nggak enak. Seporsi ayam (seperti di foto) ditambah nasi dan teh anget, harganya Rp 25 ribu. Walau saat menjelang Lebaran harga-harga naik semua, tapi buat saya makanan ini  mahal :(

Tersesat

Hari minggu pagi, saya bersepeda mencoba rute baru yang belum pernah saya lalui sebelumnya. Saat menjumpai persimpangan, mulai timbul kebingungan. Ambil belokan yang mana? Gampang. Saya pilih yang lebih lebar dan terlihat sebagai jalur utama. Ketika bertemu pertigaan yang jalannya sama-sama lebarnya, timbul dilema :D Coba ambil rute ke kiri. Tapi akses jalannya semakin lama semakin buruk. Berbatu-batu. Ban sepeda saya mulai berteriak-teriak saat melindas batu. Terdengar bunyi “tung..!” beberapa kali. Khawatir juga. Saya pun mengalami disorientasi (kekacauan arah tujuan).  Saya berhenti sejenak, mengaktifkan GPS di ponsel. Sial, GPS malah ngadat nggak mau ngunci satelit. Sementara menenangkan diri, ya udah foto-foto dulu aja :D

Jalannya rusak, nggak nyaman buat ban hybrid
Jalannya rusak, nggak nyaman buat ban hybrid
Yang ini keren juga ya?
Yang ini keren juga ya?
Jam 05.50 wib
Jam 05.50 wib

Karena GPS nya nggak nyantol-nyantol, saya coba buka Google Maps. Berhasil! Google Maps menunjukkan posisi saya kurang lebihnya di mana. Maka saya lanjutkan perjalanan. Saya tetap menyusuri jalur semula, dan tidak berbalik arah. Tidak lama berselang, ketemu jalan aspal kasar. Gowes bisa ngebut sedikit :D Selanjutnya, saya melihat fotografer amatir lagi hunting foto di pinggir kebun tebu yang saya lewati dan berpapasan pula dengan tiga goweser lain. Kami saling menyapa dengan membunyikan bel “ting-ting”. Salam gowes!

Minggu depan pengen nyoba rute yang ke kanan ah… ke mana tembusnya masih menjadi misteri. Asyik! :D