Empek-empek ala Pati

Di Pati memang banyak tukang pempek, tapi wujud dan rasanya beda banget dengan pempek asli Palembang. Makanya ada yang dengan sadar menulis tambahan “ala Pati” karena pempek aslinya memang dari Palembang (harusnya memang demikian biar pembeli tidak kecele). Di gerobak, ada yang menulis “Empek-empek ala Pati”. Isinya gorengan, seperti bala-bala (pia-pia alias bakwan sayuran), irisan cabai, irisan lumpia isi mie putih, dan kuahnya berasa bumbu kacang sedikit dan saos sambal :mrgreen:

CYMERA_20130620_183528

Harganya, seporsi isi 3 jenis gorengan Rp 5 ribu… mahal! :-(

Murah

Sehabis jalan-jalan ke waduk, kami mampir membeli gudeg yang warungnya berada di dalam perumahan kami. Harganya “cuma” 5 ribu (tanpa nasi). Ternyata kali ini gudegnya pakai ayam. Biasanya pakai telur. Wow, kok murah banget ya? *Yang beli kaget beneran tapi diem-diem menjaga perasaan biar gak ketahuan sama si empunya warung :mrgreen:

IMG_5777

Jadi inget komentar teman saya (tinggal di Pati). Dia cerita ke adiknya di Jakarta, bahwa hidup di Pati itu murah, uang rasanya gak habis-habis. Gubraakk!!! Ya iyalah, lha wong dia dokter spesialis jee… yang penghasilannya sekitar 50 juta per bulan :mrgreen:

Resto Tanjung Laut

Tahun baru 2013, kami rayakan bersama keluarga dengan makan-makan. Ceritanya, kami yang di Pati, bersama-sama keluarga di Semarang, akan pergi makan bersama di luar. Tempatnya di Resto Tanjung Laut, PRPP Semarang. Berhubung kami belum pernah ke sana dan petunjuk arahnya tidak ada, kami sempat nyasar :mrgreen:

Kami terpisah dalam 3 rombongan, dan kami satu-satunya rombongan dari Pati. Selain Tanjung Laut, ada resto lain yang berdekatan, yakni Kampung Laut dan Tepi Laut. Dalam kasus ini, kami nyasar ke Resto Tepi Laut :mrgreen:

Petunjuk jalan yang minim

Petunjuk jalan yang minim

Maklum, petunjuk jalan hanya ada 2, yang ke kiri menuju Tepi Laut, yang ke kanan ke Kampung Laut. Sedangkan Tanjung Laut tidak ada petunjuknya. Haddeeeew….

Mari kita sama-sama menyimak foto-foto resto Tanjung Laut… yuuuuk…!

Baca lebih lanjut

Nasi Pincuk Dapoer Emak

Ada tempat makan baru di Pati, namanya Dapoer Emak. Satu menu yang sangat unik adalah nasi pincuk dapoer emak. Pincuk adalah daun pisang yang dilipat sedemikian rupa sehingga berfungsi bak piring. Pincuk ini diletakkan di atas anyaman bambu. Sangat unik. Bentuknya mirip ikrak (cikrak dalam bahasa Jawa) atau pengki.

IMG_4502

Sate Hiu

Beberapa hari lalu, kami pergi makan siang di salah satu tempat makan di Pati. Kami mencoba menu-menu baru yang ada di tempat makan tsb. Kali ini kami memesan sate hiu dan nasi pelangi.

Putri saya memesan nasi pelangi yang harga seporsinya bervariasi mulai Rp 8.000,- hingga Rp 17.000,- Kali ini yang kami pesan ini adalah yang harganya Rp 8.000,-

Istri saya memesan steak ayam crispy.

Saya sendiri memesan sate hiu. Seporsi sate hiu harganya Rp 18.000,- Isinya 5 tusuk. Rasanya mirip ikan laut kebanyakan, dagingnya tebal, empuk dan tanpa duri :mrgreen:

 

Oleh-oleh Pangandaran

Mertua saya baru pulang dari Pangandaran. Bawa oleh-oleh beraneka macam keripik. Semuanya hasil laut, seperti udang, belut (atau ular laut?) dan ikan. Harga sebungkus Rp 5 ribu. Ada juga yang lebih kecil harganya Rp 4 ribu.

Oleh-oleh dari Pangandaran

Ada satu yang membuat saya agak heran. Satu diantaranya ada keripik kepiting. Kepitingnya kecil, lengkap dengan cangkangnya :lol:  Saya baru tahu kalau cangkangnya bisa dimakan. Keripik kepiting kayak apa sih rasanya?

Cangkang kepiting dibuat keripik

Ternyata rasanya agak pahit, dan capitnya tetap saja keras (untuk dimakan). Kalau cangkang badan masih bisa dikunyah, walau ya itu tadi, rasanya agak pahit. Menurut saya sih, keripik kepiting agak dipaksakan kalau dibuat menjadi makanan ringan :lol:  Kasihan juga kepitingnya, masih kecil-kecil sudah ditangkapin :mrgreen:

 

Warung Sederhana Bu Jatmi

Nama Bu Jatmi mungkin membawa hoki. Buktinya, walau menggunakan istilah “warung sederhana” dan kenyataannya memang sederhana, tapi warung Bu Jatmi sangat laris.

Warung ini terketak di Jl KH Wahid Hasyim 43, Kudus. Menu utamanya berupa soto ayam dan soto kerbau. Harga semangkuk soto Rp 7 ribu (eh, tapi lupa mungkin ini harga soto ayam).

Sebagai pelengkapnya, ada sate telur puyuh, sate hati ampela, tahu tempe goreng, perkedel, otak goreng tepung dan aneka  kerupuk.

Kendaraan pengunjung berjejer di pinggir jalan di sekitar warung karena warung ini tidak memiliki tempat parkir khusus.

Walau di Kudus banyak warung soto ayam dan soto kerbau, tapi kayaknya di sinilah tempat favorit pengunjung. Kami pun harus antri mendapatkan tempat duduk di dalam warung.

Menurut saya sih, rasa sotonya setara dengan tempat lain di Kudus (misalnya di Pujasera Kudus), yang menjadikannya begitu terkenal mungkin nama Bu Jatmi membawa hoki :lol:

Gulai Kepala Ikan Manyung (Ndas Manyung)

Nama gulai ndas manyung sudah sering saya dengar. Melihat orang memakannya pun sudah. Tapi saya kali pertama memakannya baru kemarin sore, sebagai menu buka puasa.

Ikan manyung adalah ikan laut yang biasa ditangkap dan diolah sebagai ikan asin yang disebut jambal roti. Ikan ini adalah anggota bangsa ikan berkumis (Siluriformes), famili Ariidae.

Ikan Manyung

Sepotong kepala ikan manyung, yang dibeli di warung dekat rumah, harganya Rp 7 ribu. Ukurannya kecil. Kalau yang sedang Rp 10 ribu. Yang paling besar bisa mencapai Rp 25 ribu.

Menyantap gulai ndas manyung dengan cara mengorek-ngorek sedikit daging yang masih menempel disela-sela tulangnya. Saya tidak merasakan nikmatnya karena dagingnya sangat sedikit. Maklum, yang saya beli ukuran kecil (Rp 7 ribu). Yang jelas, tulangnya jauh lebih banyak daripada dagingnya.

Gulai Kepala Manyung

Kalau suatu saat Anda lewat Pati, jangan lupa singgah sebentar ke warung makan untuk mencari makanan khas Pati yang satu ini.

Makaroni Pasta

Ketika belanja di mini market setempat, saya tertarik membeli sebungkus makaroni pasta instan. Tapi gak jadi beli. Dipikir-pikir kok mending membuat makaroni pasta saja.

Kalau membeli produk instan, memang benar ada “rasa keju” tapi entahlah mungkin berasal dari “perasa keju”. Sedang kalau membuat sendiri, kejunya benar-benar keju asli. Jadi diputuskan belanja bahan-bahan mentahnya saja, seperti makaroni kering, mentega, masako, susu kental, keju dan kornet. Itu yang saya ingat bahan-bahannya. Kalau berbeda dari resep ya gak papa, namanya juga iseng-iseng pengen masak buat anak-anak :mrgreen:

Hari minggu, pagi-pagi sekitar jam 05.00 wib, saya sudah bersiap di dapur. Ceritanya mau membuat makanan istimewa buat anak-anak. He he he…

Setengah jam mengolah bahan-bahan mentah, ternyata sudah bisa selesai menjadi makanan makaroni pasta :-)

Apa komentar anak saya (10 tahun) saat mencicipi makaroni pasta buatan ayahnya? “Kurang terasa”. Maksudnya, kurang gurih. Lha, kalo ditambahi masako, nanti bundanya yang cuap-cuap gara-gara terlalu gurih. He he he… Yang penting makaroni pasta buatan saya habis juga :mrgreen: